RADAR MALIOBORO – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo intensif melaksanakan program bedah rumah tidak layak huni (RTLH) sebagai upaya pencegahan penyebaran leptospirosis yang telah menelan 5 korban jiwa di semester pertama 2025.
Program inovatif ini dijalankan tanpa menggunakan anggaran APBD, melainkan mengandalkan gotong royong dan kepedulian sosial masyarakat.
Dalam semester pertama 2025, tercatat 18 kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta dengan 5 korban meninggal dunia.
Kondisi ini mendorong Pemkot Yogyakarta mengambil langkah preventif melalui perbaikan kondisi hunian warga yang dinilai menjadi salah satu faktor penyebaran penyakit.
"Bedah Rumah Tidak Layak Huni tujuannya untuk mewujudkan rumah sehat yang bebas dari leptospirosis dan tuberculosis, sehingga warga masyarakat bisa tinggal di tempat yang nyaman dan bebas dari penyakit," ujar Hasto saat meninjau program bedah rumah di Kelurahan Umbulharjo, Senin (4/8/2025)
Hingga pertengahan 2025, program swadaya ini telah berhasil mengentaskan 19 rumah tidak layak huni yang tersebar di beberapa kemantren.
Keberhasilan ini dicapai melalui kerja sama setiap akhir pekan, menunjukkan komitmen tinggi pemerintah kota dalam menangani permasalahan kesehatan masyarakat.
Yang menarik dari program ini adalah pendekatan tanpa anggaran negara. Hasto memastikan program bedah rumah ini sama sekali tidak menggunakan APBD Kota Yogyakarta, namun melibatkan dukungan dari berbagai pihak.
Konsep gotong royong modern ini dinilai lebih efektif dan berkelanjutan.
Dr. Siti Noor Andriani, epidemiolog dari FK UGM, mengapresiasi langkah preventif ini.
"Perbaikan sanitasi dan kondisi hunian memang terbukti efektif mencegah leptospirosis. Bakteri Leptospira berkembang di lingkungan lembab dan kotor, sehingga rumah sehat menjadi kunci pencegahan," jelasnya.
Target ambisius Pemkot adalah menyelesaikan 61 RTLH pada 2025 dengan total anggaran Rp 1,1 miliar dari APBD untuk program reguler.
Namun, program swadaya yang dijalankan Hasto terbukti lebih cepat dan efisien dalam realisasinya.
Pak Suryanto, warga Purwokinanti yang rumahnya dibedah pada Juli lalu, mengaku bersyukur.
"Dinding sudah tidak bocor lagi, lantai juga sudah diplester. Anak-anak jadi lebih sehat, tidak sering sakit seperti dulu," ungkapnya.
Capaian ini menunjukkan inovasi kepemimpinan dalam mengatasi masalah sosial tanpa tergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah.
Hasto berhasil menggerakkan solidaritas masyarakat untuk kepentingan bersama, sekaligus menyelamatkan nyawa dari ancaman leptospirosis.
Program bedah rumah swadaya ini rencananya akan diperluas ke kelurahan-kelurahan lain yang masih memiliki RTLH tinggi.
Dengan semangat gotong royong, Yogyakarta optimis dapat menekan angka kematian akibat leptospirosis di tahun mendatang.
(Qurata Ayun)