RADAR MALIOBORO - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, suasana Istana Kepresidenan Yogyakarta terasa lebih hidup dari biasanya. Pada 15–16 Agustus 2025, istana membuka pintunya bagi masyarakat umum melalui program Istura (Istana untuk Rakyat).
Program ini memberi kesempatan warga merasakan tur istimewa menyusuri kawasan bersejarah yang biasanya tertutup bagi publik.
Sejak awal kunjungan, peserta diperkenalkan dengan Raka, sistem berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk menjawab pertanyaan seputar istana melalui interaksi suara. Kehadiran Raka memberi nuansa baru karena menjembatani sejarah panjang istana dengan teknologi modern.
Tur berdurasi sekitar satu jam ini digelar tiga kali sehari dengan kapasitas maksimal 75 orang per sesi. Peserta diajak berkeliling gedung induk dan wisma-wisma bersejarah, ditemani penjelasan pemandu mengenai fungsi dan kisah di balik tiap bangunan. Walau tidak diperkenankan masuk ke ruang-ruang dalam istana, keterangan yang disampaikan cukup rinci sehingga pengunjung tetap bisa memahami peran besar istana dalam perjalanan bangsa.
Di sela-sela tur, tampak pula sejumlah petugas tengah mempersiapkan upacara kemerdekaan 17 Agustus.
Kunjungan berlanjut ke museum istana yang menjadi daya tarik utama. Koleksinya menampilkan banyak karya. Salah satu yang menjadi sorotan adalah karya maestro seni rupa Indonesia, seperti Affandi dan Raden Saleh. Pengunjug juga dibekali dengan penjelasan detail dari pemandu. Museum juga memamerkan lukisan resmi para Presiden RI, mulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Setiap potret menampilkan ciri khas kepemimpinan pada masanya, menjadi cermin perjalanan panjang republik.
Selama berada di museum, pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto, sehingga pengalaman melihat karya seni benar-benar hanya bisa dinikmati secara langsung.
Tur ini semakin semarak dengan kehadiran Putra Putri Budaya DIY yang turut mendampingi rangkaian acara. Kehadiran mereka menambah nuansa kebudayaan sekaligus menjadi representasi generasi muda yang ikut menjaga dan memperkenalkan warisan bangsa.
Sebagai penutup sesi tur, peserta diperbolehkan berfoto di area luar istana. Momen ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat untuk mengabadikan pengalaman berada begitu dekat dengan simbol negara.
Dengan antusiasme tinggi dan kuota peserta yang selalu terpenuhi, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi agenda rutin yang dapat menegaskan bahwa istana bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga ruang edukasi dan kebanggaan bersama.
(Athifah Dihyan Calysta)
Editor : Iwa Ikhwanudin