RADAR MALIOBORO – Lonjakan volume sampah di Kabupaten Gunungkidul kian menjadi perhatian serius. Data terbaru dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat bahwa dalam kurun empat tahun terakhir jumlah sampah meningkat tajam, dari 45,77 ton per hari pada 2022 menjadi 55 ton per hari di 2025. Kenaikan ini menunjukkan betapa mendesaknya langkah penanganan yang lebih terstruktur.
Di tengah kondisi tersebut, pemilahan sampah sejak dari rumah tangga disebut sebagai kunci utama untuk menekan beban lingkungan. DLH menegaskan bahwa tempat pemrosesan akhir seharusnya hanya menerima residu, sementara sampah yang masih bisa dimanfaatkan diolah melalui bank sampah maupun dikelola kembali oleh masyarakat.
Kepala DLH Gunungkidul, Harry Sukmono, menjelaskan bahwa mayoritas sampah yang dihasilkan adalah organik, mencapai 69 persen, dengan 53 persen di antaranya berasal dari sisa makanan. Potensi besar ini dinilai bisa menjadi peluang jika masyarakat terbiasa memilah, bukan sekadar membuang begitu saja.
“Kalau pemilahan berjalan baik, beban TPAS bisa berkurang drastis dan sampah organik bisa kembali bermanfaat,” katanya.
Selain mencegah pencemaran, gerakan memilah sampah juga membuka jalan menuju pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Pemerintah mendorong warga untuk memanfaatkan fasilitas bank sampah di tingkat padukuhan sebagai bentuk kolaborasi menuju Gunungkidul yang bersih dan sehat.
Lonjakan sampah yang terjadi saat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tanpa keterlibatan aktif masyarakat, target Gunungkidul bebas sampah hanya akan menjadi wacana. Pemilahan dianggap bukan sekadar pilihan, melainkan solusi nyata untuk menghadapi masalah lingkungan yang kian mendesak.
(Aulia Freza Fitriani)
Editor : Iwa Ikhwanudin