MUNGKID – Pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bagian dari strategi nasional menekan angka kemiskinan. Sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui perbaikan gizi masyarakat.
Ketua Satgas Percepatan Penyelenggaraan Program MBG Kabupaten Magelang Harsono Budi Waluyo mengatakan, program ini berfokus pada peningkatan status gizi anak-anak, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Yang notabene merupakan kelompok rentan yang menjadi indikator penting dalam pembangunan manusia.
"Kami memperkuat koordinasi dengan 16 kabupaten di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan untuk memastikan program berjalan serentak, berkualitas, dan tepat sasaran," ujar Harsono.
Menurutnya, program MBG tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi nasional percepatan penurunan kemiskinan. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), tingkat kemiskinan nasional pada 2024 masih berada di angka 9,03 persen.
Pemerintah menargetkan penurunan menjadi 4,5–5 persen pada 2029, antara lain melalui intervensi gizi, peningkatan pendidikan, dan perbaikan layanan dasar. Perbaikan gizi masyarakat, katanya, menjadi fondasi penting bagi peningkatan produktivitas jangka panjang.
"Tanpa SDM yang sehat, upaya keluar dari kemiskinan akan berjalan lebih lambat," tambahnya.
Di Kabupaten Magelang, 60 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) saat ini tengah menuntaskan proses administratif sebelum mendapatkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Empat di antaranya sudah mendapat rekomendasi dari dinas kesehatan, sementara sisanya menunggu hasil uji laboratorium.
Koordinator Wilayah SPPG Magelang Farhan Firdaus menyebut, pengawasan mutu menjadi prioritas utama sebelum program dijalankan penuh. Pihaknya pun menggalakkan kembali prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).
"Tujuannya untuk memastikan setiap tahapan produksi makanan memenuhi standar keamanan pangan," paparnya.
Dia menuturkan, setiap bahan makanan yang masuk diperiksa dan disimpan dengan pengaturan suhu tertentu. Proses produksi hingga pengantaran makanan juga melalui pemantauan suhu berlapis agar tidak menimbulkan risiko kontaminasi.
Selain itu, dilakukan uji organoleptik atau pengecekan rasa dan kualitas oleh kepala SPPG dan ahli gizi sebelum makanan disalurkan ke sekolah-sekolah. Guru di sekolah juga kembali mencicipi makanan untuk memastikan keamanan konsumsi.
"Kami berkomitmen mempertahankan zero accident di Kabupaten Magelang. Jangan sampai ada kasus keracunan. Semua makanan harus aman sebelum sampai ke anak-anak," tegas Farhan.
Setiap SPPG diwajibkan memiliki tenaga ahli gizi untuk menjamin kandungan nutrisi sesuai kebutuhan anak. Selain aspek keamanan, pengelolaan limbah juga menjadi perhatian serius. Dia pun meminta agar limbah dari setiap dapur SPPG dipisah antara organik dan anorganik.
"Petugas kebersihan akan mengangkutnya secara terpisah agar mudah dikelola dan tidak mencemari lingkungan," tambahnya.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berkomitmen memperluas jangkauan MBG ke daerah lain. Program ini dirancang agar siswa di berbagai wilayah mendapat akses makanan sehat yang setara.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan, kolaborasi dengan platform digital akan mempercepat distribusi makanan. Kemkomdigi siap menjadi penghubung agar sinergi ini berdampak nyata bagi masyarakat.
"Kementerian Komdigi siap menjadi penghubung untuk mendorong sinergi antara platform digital dan ekosistem kami, sehingga program ini dapat menyasar daerah-daerah yang membutuhkan," ujar Meutya. (aya)
Editor : Heru Pratomo