Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Diplomasi Seni Budaya Yogyakarta dan Kyoto: Bakpia Kukus Doraemon Jadi Simbol Persahabatan

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 11 November 2025 | 12:13 WIB
Ilustrasi Perayaan 40 tahun hubungan sister province Kyoto dan Yogyakarta (foto: instagram, krjogjadotcom)
Ilustrasi Perayaan 40 tahun hubungan sister province Kyoto dan Yogyakarta (foto: instagram, krjogjadotcom)

RADAR MALIOBORO – Dalam rangka memperingati 40 tahun kemitraan antara Yogyakarta dan Kyoto, Jepang, kedua kota ini kembali menunjukkan kedekatan mereka melalui kolaborasi yang menarik. Kini, karakter ikonik Doraemon muncul dalam kemasan bakpia kukus, salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta.

Sejak 16 Juli 1985, Yogyakarta dan Prefektur Kyoto telah menjalin hubungan sister province yang menjadi yang tertua di Indonesia. Persahabatan ini berawal dari interaksi antara Sultan Hamengku Buwono IX dan Gubernur Kyoto saat itu, Yukio Hayashida. Keduanya memiliki kesamaan sebagai bekas ibu kota negara, yang menjadikan hubungan ini semakin bermakna.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengungkapkan bahwa Yogyakarta dan Kyoto memiliki akar budaya dan sejarah yang kuat. Ia menyebut Kyoto sebagai "Jantung Peradaban Jepang" dan Yogyakarta sebagai "Jiwa Peradaban Jawa", menekankan pentingnya budaya dalam merancang masa depan.

Sebagai simbol dari hubungan ini, Bakpia Kukus Tugu Jogja meluncurkan varian baru, Bakpia Kukus Matcha Jepang x Doraemon. Produk ini menggabungkan kelembutan bakpia dengan cita rasa matcha khas Kyoto, dilengkapi dengan kemasan menarik bergambar Doraemon.

Nanang Siswanto, Marketing Director Bakpia Kukus Tugu Jogja, menegaskan bahwa inovasi ini mencerminkan semangat untuk beradaptasi dan berinovasi tanpa melupakan nilai-nilai lokal. Proses pengembangan produk ini memakan waktu 5-6 bulan, mulai dari pemilihan matcha yang tepat hingga kolaborasi dengan karakter Doraemon.

Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah untuk memperkenalkan budaya lokal ke dunia internasional. Ia menekankan bahwa kuliner berperan penting dalam diplomasi budaya, atau yang dikenal dengan istilah gastro diplomacy. Dukungan terhadap kolaborasi ini juga diatur dalam Peraturan Gubernur DIY Nomor 72 Tahun 2024, yang berkaitan dengan co-branding untuk mendorong inovasi di kalangan pelaku usaha.

Melalui langkah ini, diharapkan hubungan antara Yogyakarta dan Kyoto semakin erat, dan kolaborasi ini dapat meluas ke bidang lain seperti pendidikan, teknologi, dan pariwisata.

Baca Juga: Rekomendasi Kafe Ramah Kantong Mahasiswa di Daerah Daerah Bantul! Cocok untuk Mengerjakan Tugas dan Nongkrong

(Laeli Musfiroh)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#yogyakarta #sister city #kyoto