RADAR MALIOBORO – Peluncuran perangkat smartboard di SMPN 4 Bekasi menandai langkah baru dunia modernisasi sekolah, tetapi juga menjadi ujian nyata bagi guru dan siswa dalam beradaptasi dengan metode pembelajaran yang lebih interaktif.
Smartboard memungkinkan guru menyajikan materi dengan cara yang lebih dinamis, menggabungkan teks, gambar, hingga video dalam satu layar interaktif. Siswa pun dapat berpartisipasi langsung melalui fitur sentuhan, menjadikan proses belajar lebih menarik dibanding metode konvensional. “Dengan smartboard, anak-anak lebih mudah memahami materi karena bisa melihat visualisasi langsung,” ujar salah satu guru SMPN 4 Bekasi.
Namun, di balik antusiasme tersebut, muncul tantangan besar. Tidak semua sekolah memiliki kesiapan infrastruktur yang memadai, terutama di daerah dengan keterbatasan akses listrik dan internet. Pengamat pendidikan menilai, peluncuran smartboard harus diikuti dengan program pelatihan guru serta pemerataan fasilitas agar tidak menimbulkan kesenjangan digital antar sekolah.
Di Yogyakarta, sejumlah sekolah sudah mulai mencoba perangkat serupa. Meski demikian, sebagian guru mengaku masih membutuhkan waktu beradaptasi. “Teknologi ini bagus, tapi kalau guru tidak terbiasa, justru bisa menghambat proses belajar,” kata Rina guru SMP di Sleman.
Peluncuran smartboard di Bekasi menjadi simbol bahwa pendidikan Indonesia sedang bergerak menuju transformasi digital. Jika diimplementasikan secara merata dan disertai peningkatan kapasitaas guru, teknologi ini berpotensi mengubah cara belajar generasi muda dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Smartboard bukan sekadar alat bantu mengajar, melainkan pintu masuk menuju pembelajaran digital yang lebih interaktif. Tantangan terbesar kini adalah memastikan seluruh sekolah di Indonesia dapat menikmati manfaat teknologi ini secara adil, sehingga transformasi pendidikan tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga menjangkau pelosok negeri.
(Hanifah Okta)
Editor : Iwa Ikhwanudin