Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Luncurkan Program TJSL, PLN UPT Salatiga Dukung Akselerasi Pengelolaan Sampah Plastik

Magang Radar Malioboro • Jumat, 21 November 2025 | 05:03 WIB

Photo
Photo

SLEMAN – PLN UPT Salatiga resmi meluncurkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Ruang Literasi, Kaliurang, Kamis (20/11).

Program yang telah menginjak tahun kedua mendankan komitmen perusahaan terhadap kelestarian lingkungan. Utamanya dalam pengelolaan sampah plastik menjadi barang bernilai jual.

Dalam program ini, PLN menggandeng Paste Lab. Sebuah wadah inovasi anak muda dalam pengelolaan lingkungan, khususnya sampah plastik.

Program yang menekankan terwujudnya ekosistem sirkular ekonomi ini terjalin melalui kerjasama bersama bank sampah dan komunitas lingkungan baik melalui pembinaan pengelolaan sampah maupun edukasi berbasis workshop.

“Kalau tahun depan kita belum merencanakan, tapi yang sudah kita salurkan berarti sekitar Rp 200 jutaan untuk membeli berbagai macam perawatan dan juga membangun workshop-nya dan juga untuk panamanya. Pelatihan-pelatihan terutama kepada sejumlah bank sampah yang ada di sekitar dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat,” ujar Firdaus Mochamad Nur selaku Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum (KKU) PLN Video Tranmisi Jawa Tengah.

Ia menyampaikan apresiasi terhadap Paste Lab sebagai karya nyata anak-anak muda dalam kepedulian lingkungan.

Menurutnya, pemanfaatan sampah plastik mulai dari proses, mengelola, memilah, hingga mendaur ulang berorientasi pada pengurangan pencemaran lingkungan.

Solusi ini dihadirkan guna menekan salah satu sifat sampah plastik yang tidak mudah terurai. .
Ke depan, dalam waktu dekat dipertimbangkan dibentuk 8 unit tranmisi dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DIY.

CEO PasteLab Rifki menerangkan, jika pada tahun pertama 2024-2025 program TJSL berfokus pada peningkatan kapasitas produksi.

“Tahun kedua akan berfokus pada menciptakan ekosistem sirkular ekonomi,” ujarnya.

Ia menargetkan setidaknya ada dua sampai tiga workshop edukasi rutin setiap bulan dengan target audiens 50 peserta pada setiap pertemuan.

“Tentunya di tahun ini kita bisa mewujudkan cita-cita untuk menciptakan sirkular ekonomi bersama dengan stakeholder di sekitar.

Jadi kita membina bank sampah untuk menyuplai material tentunya untuk kita. Dari material itu tentunya juga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dibanding dengan biasa bank sampah jual ke tengkulak,” katanya.

Lebih lanjut, dalam mengadakan workshop, PasteLab juga menghadirkan satu armada Pak Becik, yakni mobile recycling center.

Mobil van ini membawa serta alat simulator daur ulang plastik skala kecil dan sederhana.

Alat simulator tersebut lantas dioperasikan dan dipraktikkan selama kegiatan workshop berlangsung sehingga peserta dapat mengamati secara langsung prosesi daur ulang plastik.

Nantinya ketika alat simulator itu dioperasikan akan memproduksi suatu produk dengan cepat.

“Biasanya kita sudah menginfokan ke teman-teman yang akan menghadiri workshop kita untuk membawa sampahnya. Nantinya sampah yang mereka bawa itu bisa langsung dicoba untuk diproses menjadi sebuah produk,” imbuh Rifki.

Ia juga memaparkan, PasteLab telah mengolah 200 ton sampah plasttik dengan kapasitas saat ini 2,5 ton hingga 3 ton per bulan.

Pasokan material barang produksi, yakni sampah plastik melibatkan bank sampah dan komunitas lingkungan.

Selain itu, sampah plastik non olah seperti plastik multilayer diubah menjadi solar melalui mesin pirolisis. Produk hasil olahan Paste Lab di antaranya yakni furniture sepreti meja, kursi pengganti kayu, merchandise, corporate gift, dan produk fesyen. (mg12)

Editor : Bahana.
#paste lab #pln