RADAR MALIOBORO - Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai daerah favorit pelajar atau mahasiswa, menyimpan realitas yang kurang mengenakkan bagi masyarakatnya sendiri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Jogja kini masuk peringkat kedua kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia, mengalahkan Jakarta.
Rata-rata pengeluaran masyarakat Kota Yogyakarta tercatat mencapai Rp20,6 juta per tahun. Angka ini hanya selisih tipis dari Denpasar yang berada di posisi pertama. Fakta ini langsung memicu perbincangan luas, terutama karena UMK Jogja masih tergolong rendah, berada di kisaran Rp2,6–2,7 juta per bulan.
Paradoks ini membuat banyak orang bertanya-tanya: bagaimana mungkin kota dengan upah minimum rendah justru menjadi salah satu yang paling mahal untuk ditinggali?
Salah satu penyebab utamanya adalah lonjakan biaya kebutuhan dasar. Kos-kosan yang dulu masih bisa ditemui di bawah Rp500 ribu per bulan, kini mulai sulit dicari, terutama di kawasan strategis dekat kampus dan pusat kota.
Bahkan angkringan, yang dulu jadi simbol murahnya hidup di Jogja, harganya semakin naik di banyak tempat.
Selain itu, menjamurnya coffee shop di hampir setiap sudut kota perlahan mengubah pola hidup mahasiswa dan pekerja muda.
Menu di kafe-kafe Jogja nyaris setara dengan kota besar lain, meski penghasilan rata-rata warganya lebih kecil.
Kondisi ini membuat banyak pendatang dan warga lokal harus memutar otak, seperti memilih kos di pinggiran kota, mengurangi nongkrong, hingga menekan pengeluaran harian sebisa mungkin.
Namun tetap saja, bagi sebagian orang, Jogja kini terasa “mahal tapi bergaji kecil”.
Temuan BPS tersebut akhirnya memicu reaksi beragam di media sosial, terutama di Instagram:
“Pantes adem ayem, lha wonge nerimo ing pandum.”
“Definisi ditinggal ngangeni, ditungoni ra sugeh.”
Contoh komentar-komentar tersebut menggambarkan ironi bahwa sifat orang-orang Jogja yang ramah dan sudut-sudut kota yang menyimpan cerita justru seperti “jebakan” yang membuat ekonomi masyarakatnya sendiri sulit berkembang.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin