Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

SBY Menilai Dunia Kian Rawan, Perang Dunia III Bisa Terjadi Jika Ketegangan Global Tak Diredam

Magang Radar Malioboro • Selasa, 20 Januari 2026 | 17:35 WIB
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono atau kerap disapa SBY.
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono atau kerap disapa SBY.

RADAR MALIOBORO - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono atau kerap disapa SBY, menilai dunia saat ini berada dalam fase yang sangat berbahaya.

Ia memperingatkan bahwa potensi terjadinya Perang Dunia III semakin nyata seiring memburuknya dinamika geopolitik global dan melemahnya upaya kolektif untuk menjaga perdamaian internasional.

SBY menyampaikan kekhawatirannya melalui akun media sosial X pribadinya pada Senin, (19/1/2026).

Dalam refleksi yang panjang, SBY menuliskan dengan tegas bahwa ancaman perang dunia bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari ketegangan yang terus dibiarkan tanpa penyelesaian nyata.

SBY mengaku terus mengikuti perkembangan dunia selama beberapa tahun terakhir.

Dari pengamatannya, arah politik global menunjukkan pola yang mengkhawatirkan dan mengingatkannya pada periode sebelum meletusnya dua perang dunia sebelumnya.

Menurutnya, dunia saat ini kembali dihadapkan pada situasi yang dipenuhi kecurigaan, permusuhan kekuatan besar, serta perlombaan memperkuat militer.

“Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ungkap SBY dalam unggahan tertulisnya di Platform X.

Kemunculan pemimpin yang mengedepankan kekuatan, terbentuknya kelompok-kelompok negara yang saling berseberangan, serta meningkatnya belanja militer menjadi tanda bahwa stabilitas dunia sedang rapuh.

SBY menilai, situasi ini makin berbahaya karena ketegangan geopolitik terus meningkat, sementara ruang dialog dan upaya damai semakin terbatas.

Dalam pandangan SBY, Perang Dunia Ketiga bukanlah sesuatu yang mustahil.

Namun, ia tetap menekankan bahwa konflik global tersebut masih bisa dicegah jika dunia bertindak cepat dan serius.

Masalahnya, kata dia, waktu untuk mencegah bencana tersebut semakin menyempit.

“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit,” lanjut SBY.

Ia mengingatkan bahwa sejarah telah memberikan pelajaran berharga.

Perang besar di masa lalu terjadi bukan karena dunia tidak mengetahui risikonya, melainkan karena kegagalan kolektif dalam mengambil langkah nyata ketika tanda-tanda bahaya sudah terlihat jelas.

Ketidakpedulian, rasa tidak berdaya, dan kepentingan sempit masing-masing negara sering kali mengalahkan kepentingan kemanusiaan yang lebih besar.

SBY juga menyoroti besarnya risiko yang harus ditanggung umat manusia jika perang dunia benar-benar pecah, terutama jika melibatkan senjata nuklir.

Ia menekankan bahwa perang semacam itu tidak hanya akan menghancurkan negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga berdampak pada seluruh peradaban manusia.

“Banyak studi mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total, dan perang nuklir, kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari lima miliar manusia,” tulisnya.

Meski begitu, SBY menegaskan bahwa doa dan kekhawatiran moral saja tidak cukup untuk mencegah kehancuran global.

Dunia membutuhkan keberanian politik dan kemauan nyata dari para pemimpin internasional untuk meredakan konflik dan membuka ruang dialog.

Dalam konteks itu, SBY mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tidak bersikap pasif.

Ia mengusulkan agar PBB mengambil inisiatif menggelar Sidang Umum Darurat yang mempertemukan para pemimpin dunia guna membahas langkah konkret mencegah krisis global yang lebih besar.

SBY mengakui bahwa peran dan kekuatan PBB saat ini menghadapi banyak keterbatasan.

Namun, menurutnya, ketidakberdayaan bukan alasan untuk tidak berbuat apa-apa.

Dunia, kata dia, setidaknya perlu menunjukkan bahwa masih ada upaya kolektif untuk mencegah bencana kemanusiaan.

“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” tegas SBY.

Menutup pesannya, SBY menekankan dimensi moral dari ancaman perang dunia.

Ia mengingatkan bahwa kehancuran dunia tidak hanya disebabkan oleh tindakan agresif segelintir pihak, tetapi juga oleh sikap diam dari mereka yang sebenarnya menginginkan perdamaian.

“Kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia,” tulisnya.
(Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#perang dunia iii #ketegangan global #dunia #susilo bambang yudhoyono #sby #Rawan #Presiden ke 6 Republik Indonesia