RADAR MALIOBORO - Banyak orang yang menderita GERD sering hidup dalam rasa takut.
Setiap kali dada terasa panas, nyeri, atau seperti ditekan, muncul pikiran buruk bahwa itu adalah serangan jantung.
Tidak sedikit pula yang percaya bahwa GERD bisa menyebabkan henti jantung dan berujung pada kematian.
Klaim seperti ini banyak beredar dari mulut ke mulut, terutama di media sosial dan sering kali membuat penderita GERD semakin cemas.
Padahal, secara medis, anggapan tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan ketakutan yang berlebihan.
GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah kondisi ketika asam lambung sering naik ke kerongkongan.
Dalam kondisi normal, asam lambung hanya berada di lambung untuk membantu proses pencernaan.
Namun pada penderita GERD, katup antara lambung dan kerongkongan tidak menutup dengan baik, sehingga asam mudah naik ke atas.
Akibatnya muncul keluhan seperti rasa panas di dada, nyeri, mual, mulut terasa asam, hingga tenggorokan tidak nyaman.
Karena keluhan ini terasa di area dada, banyak orang kemudian mengaitkannya dengan gangguan pada jantung.
Berdasarkan penjelasan medis yang dilansir dari doihavegerd.com, GERD dan penyakit jantung merupakan dua kondisi yang berbeda dan tidak saling menyebabkan.
Serangan jantung terjadi akibat adanya penyumbatan pada pembuluh darah jantung yang membuat aliran darah dan oksigen ke otot jantung terhenti.
Sementara itu, GERD adalah gangguan pada sistem pencernaan, khususnya pada aliran asam lambung.
Secara mekanisme tubuh, GERD tidak memiliki hubungan langsung dengan proses terjadinya serangan jantung.
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa gejala GERD memang sering meniru gejala serangan jantung.
Nyeri dada akibat GERD bisa terasa cukup hebat, disertai sensasi terbakar dan rasa tidak nyaman yang menjalar ke leher atau punggung.
Kondisi ini kerap memicu kepanikan, terlebih jika disertai jantung berdebar dan napas terasa pendek.
Namun, reaksi tersebut umumnya dipicu oleh kecemasan dan respons tubuh terhadap nyeri, bukan karena adanya kerusakan pada jantung.
Inilah yang kemudian memunculkan anggapan keliru bahwa GERD dapat menyebabkan henti jantung, padahal yang terjadi sebenarnya adalah reaksi stres dan ketakutan.
Lalu bagaimana dengan kabar bahwa penderita GERD bisa meninggal dunia? Secara medis, GERD bukanlah penyebab langsung kematian.
Merujuk penjelasan dari laman resmi The Indonesian Society for Digestive Endoscopy, GERD pada dasarnya tidak bersifat mematikan secara langsung.
Namun kondisi ini tetap tidak boleh dianggap sepele.
GERD yang dibiarkan tanpa penanganan yang baik dalam jangka panjang dapat memicu komplikasi serius, seperti luka kronis pada dinding kerongkongan, penyempitan di bagian bawah esofagus, hingga peningkatan risiko terjadinya kanker esofagus.
Dalam kondisi tertentu, GERD baru dapat berujung pada kematian apabila telah terjadi perubahan struktur jaringan esofagus yang kemudian berkembang menjadi kanker.
Anggapan bahwa GERD dapat menyebabkan serangan jantung hingga kematian mendadak juga ditegaskan tidak benar oleh dr Tirta Mandira Hudhi, seorang dokter umum dan pebisnis Indonesia.
Melalui akun X pribadinya @tirta_cipeng, ia menjelaskan bahwa kematian mendadak secara medis umumnya berkaitan langsung dengan gangguan pada organ vital seperti jantung dan otak, bukan akibat penyakit asam lambung.
Salah satu kondisi yang sering luput terdeteksi adalah gangguan irama jantung, yang dalam beberapa kasus tidak menimbulkan gejala jelas, tetapi dapat berujung pada serangan jantung.
Sementara itu, sensasi jantung berdebar yang kerap dirasakan penderita GERD lebih sering dipicu oleh rasa nyeri atau respons tubuh terhadap ketidaknyamanan, bukan karena gangguan pada sistem kelistrikan jantung.
Oleh karena itu, berdebar akibat GERD dan berdebar akibat gangguan irama jantung merupakan dua kondisi yang berbeda dan tidak bisa disamakan.
“GERD itu jauh sekali hubungannya kalau dibilang bisa menyebabkan serangan jantung. GERD adalah penyakit asam lambung naik, sedangkan kematian mendadak biasanya berkaitan langsung dengan jantung dan otak, terutama gangguan irama jantung, bukan karena GERD,” tegas dr Tirta.
Hal senada juga disampaikan oleh dr Dwita Rian Desandri, Sp.JP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.
Melalui akun X pribadinya @wita_desandri, ia menegaskan bahwa GERD tidak menyebabkan penyakit jantung maupun henti jantung mendadak.
Menurutnya, meskipun letak organ jantung dan lambung berdekatan dan hanya dipisahkan oleh diafragma, keduanya memiliki fungsi dan mekanisme penyakit yang sangat berbeda.
Ia juga menjelaskan bahwa sensasi GERD memang bisa menyerupai serangan jantung, sehingga sering menimbulkan salah kaprah di masyarakat.
“GERD itu mirip sensasinya dengan serangan jantung. Jadi kalau ada keluhan seperti GERD lalu seseorang meninggal, kemungkinan besar penyebabnya bukan GERD, melainkan masalah jantung. Namun karena di Indonesia otopsi jarang dilakukan, gejala awal yang dirasakan pasien sering dijadikan kesimpulan akhir oleh orang awam,” jelas dr Dwita.
Penting untuk dipahami bahwa kematian yang kerap dikaitkan dengan GERD bukanlah akibat serangan jantung atau henti jantung secara langsung.
Baca Juga: Getaran Gempa Terasa Dua Kali di Jogja, Guncangan Terakhir Berasal dari Gunungkidul
Dalam kasus tertentu, kematian lebih berkaitan dengan komplikasi lanjutan yang berat dan tidak tertangani dengan baik.
Oleh karena itu, anggapan bahwa GERD dapat tiba-tiba menghentikan kerja jantung merupakan kesalahpahaman yang tidak didukung oleh bukti medis.
Kesimpulannya, GERD tidak menyebabkan serangan jantung dan tidak secara langsung menyebabkan kematian.
Meski dapat sangat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup, risiko GERD dapat dikendalikan dengan penanganan yang tepat.
Penderita GERD tidak perlu hidup dalam ketakutan berlebihan.
Yang terpenting adalah mengenali gejala, membedakan keluhan lambung dan jantung, serta rutin berkonsultasi dengan tenaga medis.
Dengan pengobatan dan gaya hidup yang sesuai, penderita GERD tetap dapat hidup normal, aman, dan sehat. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva