Jakarta – Indonesia kembali mencatatkan prestasi ilmiah di bidang biodiversitas.
Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Bengkulu (UNIB) berhasil menemukan spesies baru dari genus Rafflesia di hutan pedalaman Kalimantan Timur.
Spesies tersebut diberi nama Rafflesia harjatii, menambah daftar kekayaan flora nasional menjadi 14 jenis Rafflesia yang diketahui di Indonesia.
Penemuan ini dipublikasikan secara resmi pada awal 2026 melalui jurnal ilmiah internasional, setelah melalui proses identifikasi mendalam termasuk analisis morfologi dan sekuensing DNA.
Penemuan Rafflesia harjatii dilakukan di wilayah Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Lokasi ini merupakan bagian dari hutan hujan tropis yang masih relatif terjaga, meski menghadapi ancaman deforestasi dan perubahan iklim.
Rafflesia dikenal sebagai bunga terbesar di dunia dengan diameter bisa mencapai lebih dari 1 meter dan berat hingga puluhan kilogram.
Bunga parasit ini tidak memiliki daun, batang, maupun akar sendiri, melainkan hidup menumpang pada tanaman inang dari genus Tetrastigma.
Ciri khas Rafflesia harjatii termasuk pola bintik-bintik unik pada kelopaknya serta struktur morfologi yang membedakannya dari spesies Rafflesia lain di Kalimantan.
Nama "harjatii" diberikan sebagai penghormatan kepada kontribusi tertentu dalam penelitian botani Indonesia.
Tim peneliti yang terlibat meliputi:
Dr. Ridha Mahyuni, M.Sc. (BRIN)
Dr. Sudarmono
Dr. Dian Latifah
Prof. Agus Susatya (Universitas Bengkulu)
serta kontribusi dari Willie Smits
Penemuan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia, khususnya untuk genus Rafflesia.
Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 40% populasi spesies Rafflesia global, dengan Bengkulu sebagai provinsi yang paling kaya (memiliki 5 jenis sebelum temuan ini).
Prof. Agus Susatya, salah satu peneliti senior, menekankan pentingnya perlindungan habitat hutan primer agar spesies langka seperti ini tidak punah sebelum sempat dipelajari lebih lanjut.
Penemuan Rafflesia harjatii juga menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan dukungan riset STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), termasuk anggaran riset botani dan konservasi.
Warga Yogyakarta dan DIY yang tertarik dengan kekayaan alam Indonesia dapat mengikuti perkembangan biodiversitas nasional melalui situs resmi BRIN atau jurnal ilmiah terkait.
Temuan ini diharapkan mendorong wisata ilmiah dan ekowisata berkelanjutan di Kalimantan Timur.
Indonesia terus membuktikan kekayaan alamnya yang luar biasa.
Rafflesia harjatii bukan hanya sekadar bunga raksasa berbau busuk.
Melainkan simbol pentingnya konservasi dan riset ilmiah nasional. (iwa)
(Sumber: BRIN, Universitas Bengkulu, dan publikasi ilmiah terkait, 2026)
Editor : Iwa Ikhwanudin