JAKARTA – Kasus campak kembali menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan lonjakan signifikan sejak awal tahun ini, dengan total 10.453 kasus suspek campak hingga minggu ke-8 (awal Maret 2026), termasuk 572 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 6 kematian (Case Fatality Rate/CFR sekitar 0,05-0,06%).
Semua korban meninggal adalah anak di bawah lima tahun yang tidak memiliki riwayat imunisasi sama sekali.
Data terbaru dari Kemenkes menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan periode sebelumnya. Sepanjang 2025, tercatat 63.769 kasus suspek, 11.094 kasus konfirmasi, dan 69 kematian.
Tren ini berlanjut ke 2026, dengan 45 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak tersebar di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
Provinsi DIY dan Jawa Tengah termasuk dalam lima wilayah terparah, bersama Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan lainnya.
Puncak kasus terjadi di pertengahan Januari 2026, dengan ratusan suspek terdeteksi setiap hari, dipicu oleh mobilitas sosial tinggi dan cakupan imunisasi yang belum merata di beberapa daerah.
Penyebab utama lonjakan ini adalah penurunan cakupan vaksinasi rutin dalam beberapa tahun terakhir, ditambah misinformasi di masyarakat yang membuat orang tua ragu memberikan vaksin Measles-Rubella (MR) kepada anak.
Sekitar 67% kasus konfirmasi tidak memiliki riwayat imunisasi. Indonesia bahkan menempati peringkat kedua dunia untuk kasus campak terbanyak berdasarkan laporan WHO periode terbaru.
Kemenkes kini mempercepat respons: stok vaksin MR mencapai 9,5 juta dosis di pusat dan 6,6 juta dosis sudah didistribusikan ke provinsi serta puskesmas.
Imunisasi respons outbreak (ORI) digencarkan di wilayah KLB, sementara masyarakat diimbau segera melengkapi imunisasi anak, terutama menjelang mudik Lebaran yang berpotensi meningkatkan penularan akibat kerumunan dan mobilitas tinggi.
Gejala campak meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta ruam kemerahan yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.
Penyakit ini sangat menular melalui udara dan bisa menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, encephalitis, hingga kematian pada anak kecil.
Dosen UGM dan pakar kesehatan mendesak peningkatan okupansi vaksinasi hingga minimal 95% untuk menciptakan herd immunity.
Masyarakat, khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dihimbau membawa anak ke puskesmas atau posyandu terdekat untuk imunisasi gratis MR. Hindari kerumunan jika anak menunjukkan gejala, dan laporkan segera ke fasilitas kesehatan.
Pantau update resmi dari Kemenkes, IDAI, serta BMKG terkait cuaca yang memengaruhi penyebaran. Vaksinasi adalah kunci utama mengakhiri wabah ini—jangan tunggu sampai terlambat. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin