Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Rupiah Terjun Bebas ke Rp17.000-an: Dolar AS Tembus Level Psikologis, IHSG Anjlok 5%, Dampak Perang Timur Tengah dan Lonjakan Minyak

Iwa Ikhwanudin • Senin, 9 Maret 2026 | 16:01 WIB

Ilustrasi melemahnya rupiah terhadap dolar AS.
Ilustrasi melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini (9/3/2026) benar-benar terjun bebas, langsung menembus batas psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026), rupiah dibuka melemah tajam hingga mencapai Rp17.017 per dolar AS, turun sekitar 0,40-0,50% dari penutupan sebelumnya di kisaran Rp16.925.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat berada di Rp17.009, sementara JISDOR Bank Indonesia mencatat level Rp16.974—masih di zona merah dan mendekati rekor terendah baru.

Pelemahan ekstrem ini langsung memicu panic selling di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 5% di awal sesi, sempat menyentuh level terendah 7.156, dengan ratusan saham terpuruk ke zona merah.

Netizen di media sosial ramai menyebut "rupiah terjun bebas" sebagai tren utama hari ini, lengkap dengan meme dan keluhan soal harga impor yang bakal melambung.

Penyebab utama? Eskalasi konflik di Timur Tengah pasca-pelantikan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, yang memicu lonjakan harga minyak dunia mendekati US$100 per barel.

Ketegangan ini meningkatkan sentimen risk-off global, membuat investor lari ke aset aman seperti dolar AS.

Faktor domestik turut memperburuk: risiko defisit APBN yang membengkak, kekhawatiran fiskal, serta tekanan impor tinggi menjelang Ramadan dan Lebaran.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi eksternal (geopolitik dan harga minyak) serta internal (defisit anggaran dan kebutuhan valas) menjadi biang kerok utama.

"Rupiah ambrol ke Rp17.000 karena perang Iran dan risiko fiskal," ujarnya.

Prediksi hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp16.900–Rp17.050, dengan potensi tekanan lanjutan jika konflik tak mereda.

Bagi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah, dampak langsung terasa pada harga bahan pokok impor seperti gandum, kedelai, dan BBM—potensi inflasi naik dan daya beli tergerus.

Bank Indonesia terus intervensi pasar untuk stabilisasi, tapi pasar global masih mendominasi.

Pantau terus update kurs resmi di situs BI, Bloomberg, atau app perbankan.

Di tengah gejolak ini, bijaklah dalam pengelolaan keuangan—jangan panik, tapi tetap waspada. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Rupiah Terjun Bebas #Ekonomi Indonesia #Dolar Rp 17000 #Trending Hari Ini