RADAR MALIOBORO– Gunung Marapi Sumatera Barat, menyemburkan lahar panasnya, pada Minggu (3/12/23).
Akibat erupsi tersebut, sejumlah pendaki yang berada di puncak Gunung Marapi terjebak oleh awan panas.
Nah, berikut cerita warga lereng Gunung Marapi, yang begitu sigapnya melakukan evakuasi terhadap korban yang terkena letusan dan terjebak di puncak Gunung Marapi.
Bukan semata paksaan melainkan atas dasar kemanusiaan.
Baca Juga: Inspiratif, Forum Peduli Difabel Bantul Berinisiatif Bantu Sesama Difabel
Bahkan mereka nekat, dengan peralatan seadanya. Menyisir gunung yang tengah murka dan membawa korban pendakian turun ke bawah.
Melansir dari BBC Indonesia, begini cerita Afri Rusdi, Warga Batu Palano, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam. Dia, bersama warga setempat turun tangan membantu Tim SAR Gabungan dalam proses evakuasi korban lebih awal.
Afri menjadi orang pertama yang melakukan evakuasi korban letusan Gunung Marapi. Paskah sebuah unggahan video korban minta tolong viral di media sosial.
Setelahnya, baru disusul warga lain.
Mewakili warga lainnya, Afri menceritakan, saat terjadi musibah warga setempat turut andil. Bahkan mereka rela meninggalkan pekerjaanya untuk membantu.
“Kami akan meninggalkan pekerjaan kami untuk membantu. Apalagi ini sebuah bencana berskala nasional, tentu kami harus turun tangan”, tegas Afri.
Afri mengandalkan sepeda motor trail yang dirakitnya sendiri untuk pergi ke puncak gunung. Pun senada dengan warga setempat lainnya, beberapa juga menggunakan motornya masing-masing.
Mereka melakukan penyelamatan dengan tangan kosong, tanpa membawa peralatan atau perbekalan apapun.
Tanpa menyiapkan kantong jenzah, mereka nekat naik melakukan evakuasi.
Evakuasi awal, suasana masih mencekam. Di tengah proses penyelamatan itu, erupsi Gunung Marapi masih terus berlangsung.
“Kami dari bawah tanpa perbekalan. Tidak membawa senter, tidak membawa kantong jenazah. Kami menggunakan dua kantong sisa kawan-kawan yang lain (di lokasi, Red). Lalu kami naik ke atas," ungkap Afri, warga Desa Batu Palano tersebut.
Betapa mengerikannya saat itu. Kondisi Marapi diselimuti abu tebal. Bahkan para korban ini hampir tertutupi abu.
"Kami memasukkan korban ke dalam kantong jenazah di antara mayat-mayat yang ada. Kemudian kami evakuasi ke Cadas atau pos aman dan membawanya turun," bebernya.
Lanjut dia, sesampainya di Cadas, warga kembali naik.
"Lalu teman-teman bertanya kepada saya, ‘Gimana paman, kita kasih tanda (lokasi jenazah) saja dulu?’. Sementara erupsi Gunung Marapi masih berlangsung,” ungkap Afri. Kejadian itu masih sangat lekat diingatannya.
Warga harus berjuang keras untuk membawa para korban.
Korban yang sudah diletakkan di Cadas, kemudian dibawa turun ke bawah dengan menggunakan sepeda motor trail milik warga sendiri.
Tak terkecuali Afri. Dia mengikat jenazah tersebut ke tubuhnya dengan ikat pinggang. Kemudian mengangkutnya meluncur ke bawah dengan sepeda motor.
Dia kembali menceritakan, pada hari pertama, saat bencana itu terjadi, belum ada tim Basarnas ataupun dari tim penyelamat lainnya yang datang untuk mengevakuasi korban.
Jadi proses penyelamatan awal dilakukan oleh warga yang mencapai 100 orang.
Sementara itu dari catatan pengelola pendakian, terdapat 75 orang pendaki melalui jalur legal.
Dia bersyukur, semua pendaki tersebut telah berhasil dievakuasi.
Meski sebanyak 23 pendaki dinyatakan tewas, 12 pendaki luka-luka dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit, serta 40 pendaki lainnya selamat dan telah pulang ke rumah masing-masing. (Anistigfar/Radar Jogja)