Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Poster Film Jadul Bioskop, Yoyok Suroso Kadang Ciptakan Sendiri jika Tak Ada Desain dari PH

Gregorius Bramantyo • Minggu, 14 Januari 2024 | 22:25 WIB
BERNILAI SENI TINGGI: Sebuah poster film Si Unyil yang dibuat tahun 1980-an yang dilukis menggunakan cat di atas kain.
BERNILAI SENI TINGGI: Sebuah poster film Si Unyil yang dibuat tahun 1980-an yang dilukis menggunakan cat di atas kain.

RADAR MALIOBORO - Berbicara soal poster film jadul, akan teringat dengan gambar-gambar mentereng pada poster film yang menampilkan aktor bermimik kocak, berotot besar, atau aktris berpostur aduhai. Poster-poster itu terpasang besar di papan reklame depan bioskop. Gambar-gambar itu kerap memancing rasa penasaran orang untuk datang menonton.
Oktavianus Yoyok Suroso adalah salah satu sosok di balik gambar-gambar di poster film lawas itu. Mulanya pada tahun 1972 ketika ia sedang cuti kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yoyok pergi ke Jakarta untuk mencari uang. Ia lalu diajak oleh rekannya untuk menggambar poster film yang disutradarai Bambang Irawan.
Film yang dimaksud adalah Sopir Taxi yang dibintangi Bambang Hermanto alias Herman Dulong. "Medianya masih pakai cat kayu dan berat sekali. Itu saya diajak sama teman ke sana. Dan itu awal mula saya terjun menjadi pelaku pembuatan poster film," katanya saat ditemui Radar Jogja Jumat (12/1).


Akhirnya hingga tahun 1978, Yoyok menjadi penggambar poster film di Jakarta dengan ikut seseorang yang menampung para penggambar poster film. Di sana, ia biasa menggambar poster film-film Tanah Air. Sebab pada masa itu, film Indonesia masih laku keras karena pembatasan film barat.
"Di situ kerjanya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Full sehari semalam itu kerja. Waktu itu masih ikut orang,” ungkap warga Mantrijeron, Kota Jogja, ini.
Kemudian pada 1978, Yoyok kembali pulang ke Jogja dan menjadi penggambar poster film mandiri. Lepas dari juragan yang sebelumnya. Ia pun juga memiliki tarifnya sendiri. Dengan poster film ukuran 5x2,5 meter, saat itu jasanya dihargai Rp 50 ribu. Saat kembali ke Jogja, Yoyok menggambar poster film di Bioskop Ratih dan Rahayu.
Dua bioskop itu kemudian kolaps dan sahamnya diambil oleh Mataram Theatre. Akhirnya Yoyok menggambar poster film di Bioskop Mataram. “Di sana (Bioskop Mataram) nggak begitu lama karena semakin lama harga poster film sudah naik, bahkan cat dan kain ikut naik harganya,” ujar ayah dua anak ini.


Ia menjelaskan, poster film yang ia kerjakan menggunakan media kain dengan cat tembok yang kualitasnya baik. Lantaran poster tersebut dipasang di tempat terbuka. “Sehingga catnya harus tahan lama dan tahan dari sinar matahari dan hujan,” tambahnya.
Dalam pengerjaan poster film, Yoyok membutuhkan waktu dua hari. Desain poster filmnya pun terkadang ia ciptakan sendiri. Apabila tidak ada desain dari rumah produksi (production house/PH)). Biasanya film-film barat atau India yang tidak memiliki desain posternya. Langkahnya adalah dengan menyusun foto-foto yang diambil saat adegan film menjadi suatu desain. “Waktu itu belum pakai proyektor, jadi mengukurnya manual pakai skala,” ucap Yoyok.
Pria 73 tahun ini mengakui, poster film yang ia buat pernah tidak disetujui. Sehingga harus dikembalikan ke dirinya untuk disempurnakan lagi. Setelah poster mendapatkan persetujuan, barulah ia bisa menerima upahnya.
Ia pun pernah mengalami beberapa kendala dalam pengerjaan poster film. Seperti cuaca yang tidak mendukung yakni hujan. Hal itu membuat dirinya kerepotan untuk mengeringkan cat di poster. Pagi harinya harus segera dipasang, namun malam sebelumnya poster itu belum kering. Pada saat itu, Yoyok tidak memiliki alat pengering. “Akhirnya cuma membakar kertas saja, ditaruh di bawah poster agar hawa panasnya merambat ke poster, biar cat cepat kering,” ungkapnya.
Menurutnya, poster film yang berkesan baginya adalah apabila film tersebut bagus dan laris. Seperti poster film November 1828 yang disutradarai Teguh Karya. Bagi Yoyok, itu berkesan karena ia menggambarnya dengan senang hati. “Saya berkali-kali nonton film itu karena menggambarnya di gedung Bioskop Ratih dan Rahayu. Sering keluar masuk nggak cuma sekali,” katanya. (tyo/laz)

Editor : Satria Pradika
#oldies #bioskop #jadul #poster