Taman Nasional Gunung Merapi berada di dua kabupaten yang masih lekat kuat dengan nilai sosial dan penyambung antara nilai budaya dengan nilai saintifik.
Perjalanan Gunung Merapi menjadi taman nasional relatif panjang.
Saat itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda dan menjadikan Gunung Merapi sebagai hutan lindung.
Status ini bertahan cukup lama dari 1931 hingga 1975. Hingga resmi menjadi Taman Nasional Gunung Merapi.
Totalnya sudah tiga tahapan perubahan yang dilalui oleh Gunung Merapi.
Mulai dari hutan lindung sampai cagar alam.
Di tahun 2004, status taman nasional itu akhirnya diraih lewat SK Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004.
Status yang berubah dari hutan lindung atau cagar alam ke taman nasional tidak memiliki pengaruh terlalu besar kepada masyarakat sekitar, selain tentunya nilai ekonomi.
Ini dikarenakan Taman Nasional Gunung Merapi dari dulu menjadi sumber air dan penyangga sistem kehidupan bagi berbagai kabupaten, bahkan kota yang mengelilingnya.
Selain Yogyakarta, ada Sleman, Boyolali, Klaten hingga Magelang.
Taman Nasional didirikan pada tahun 2004.
Dengan luas sekitar 6.410 hektar (64 km persegi) dan pada ketinggian 600-2968 meter di atas permukaan laut.
Taman Nasional Gunung Merapi sebagian besar tertutup oleh hutan pegunungan tropis.
Di taman hidup banyak spesies kehidupan liar seperti:Macan tutul, babi hutan, rusa, elang dan beberapa jenis ular.
Nama Merapi berarti Gunung Api dalam bahasa Jawa.
Asap bisa dilihat muncul dari kawah.
Seperti baru-baru ini tahun 2006 dan November 2010 gunung berapi meletus mengakibatkan kerusakan yang cukup parah yang memakan korban jiwa.
Karena sangat beresiko maka aktivitas pengunjung di Taman Gunung Merapi tergantung pada pemerintah daerah.
Dilarang mengabaikan peringatan dari pemerintah daerah ataupun pergi sendiri.
Di pulau Jawa gunung Merapi adalah tempat sakral dan setiap tahun pada hari ulang tahun penobatan Sultan Yogyakarta diselengarakan upacara persembahan.
Mitosnya, Gunung Merapi bagian dari pusat sakral penghubung antar utara dan selatan yang kemudian menghubungkan para roh Merapi dengan Sultan Yogyakarta dan Ratu Nyi Roro Kidul dari Samudera Selatan. (Rattiantic/Radar Jogja)
Baca Juga: Ini Dia 8 Jenis Wayang Kulit di Asia Tenggara, Apa Saja….?
Editor : Meitika Candra Lantiva