RADAR MALIOBORO - Masjid Sulthoni Wotgaleh merupakan masjid milik Kraton Yogyakarta yang berada di wilayah Negara Agung.
selain berfungsi untuk keagamaan (Islam), juga berfungsi sebagai tempat pertahanan rakyat.
Pada waktu didirikan bangunan makam dan masjid, berada di tengah-tengah pemukiman warga.
Namun pada masa penjajahan Jepang diadakan pelebaran wilayah bandara, sehingga rumah-rumah penduduk dipindahkan ke tempat lain.
Sekeliling masjid-makam sekarang merupakan tanah TNI AU yang ditanami tebu.
Masjid Sulthoni Wotgaleh berlokasi di Padukuhan Wotgaleh, Noyokerten, Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.
Masjid Suthoni Wotgaleh telah di tetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Bupati Kabupaten Sleman dengan nomor peraturan 14.7/Kep.KDH/A/2017 pada tanggal 6 Februari2017.
Masjid Sulthoni Wotgaleh dibangun sekitar tahun 1600 Masehi yang lalu.
Kata Wotgaleh berasal dari kata wot yang berarti jembatan, menyeberangi atau meniti, dan galeh atau galih berarti hati.
Sehingga wotgaleh berarti tempat bagi orang-orang yang ingin menguatkan hatai dalam mencapai kesabaran lahir dan batin.
Masjid Sulthoni Wotgaleh merupakan masjid yang berada dalam satu komplek dengan makam yang disebut Hastono Wotgaleh.
Yaitu, makam Panembahan Puruboyo I (putra Panembahan Senopati dari Mataram Islam).
Seperti umumnya bangunan masjid di Jawa menggunakan atap berbentuk Tajug.
Dari ciri-ciri yang ada merupakan tipe Tajug Lawakan Lambang Teplok, yaitu bangunan dengan atap tajug di bagian tengah dan mempunyai atap pananggap di keempat sisinya.
Bagian atas atap pananggap terdapat blandar lumajang yang menempel pada sunduk-kili pamidhangan atau sakaguru.
Biasanya, banyak peziarah datang untuk memperingati hari kelahiran dan kematian Pangeran Purbaya.
Selain makam keluarga Pangeran Purbaya, di sekitar Masjid Sulthoni Wotgaleh juga terdapat makam keluarga Sultan Hamengkubuwono II dan IV.
Alhasil, area masjid dan pemakaman ini pun tidak luput dari mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat.
Di samping kiri dan kanan ruang utama masjid terdapat ruang yang disebut Pawestren(untuk sholat perempuan) dan ruangan untuk takmir masjid.
Di bagian depan terdapat serambi berbentuk Limasan dengan tiang atau saka utama berjumalah 8 (delapan) buah, di bagian luarnya terdapat atap emper.
Di serambi masih ada bedug lama, sebagai sumber bunyi untuk menandakan waktu sholat sebelum adanya pengeras suara.
Bangunan Masjid Sulthoni Wotgaleh sudah mengalami perubahan yang sangat signifikan.
Pada bagian lantai masjid seluruhnya sudah diganti dengan keramik berwarna putih.
Di bagian dalam ruangan utama, pada dinding ruangan telah diberi keramik setinggi 1 meter hingga bagian mihrab.
Empat saka guru yang menopang bagian atap beserta umpaknya masih dalam kondisi asli.
Bagian tumpangsari telah diberi tambahan elemen kayu baru dan dipernis sehingga terlihat mengkilat.
Bagian pintu dan jendela masih menggunkan komponen asli.
Bagian usuk menggunakan model ri gereh, yaitu sejajar lurus satu sama lain dan tidak memusat.
Pada bagian usuk ini terdapat beberapa elemen yang sudah diganti dengan kayu yang baru.
Secara bentuk keseluruhan bangunan Masjid Sulthoni Wotgaleh masih mempertahankan bentuk aslinya, hanya saja perbaikan yang dilakukan tidak sesuai aturan yang ada dan mengalami beberapa penambahan.
Adapun salah satu mitos paling terkenal tentang kawasan masjid ini adalah, jika ada pesawat yang melintasi kawasan masjid dan makam, pesawat itu akan jatuh.
Seperti diketahui, makam ini berada di sebelah selatan Bandara Adisucipto Yogyakarta. Bahkan, burung pun bisa jatuh jika terbang di atasnya.
Insiden pesawat jatuh di dekat Masjid Sulthoni Wotgaleh pun telah terjadi beberapa kali.
Sampai saat ini, Makam Wotgaleh dikenal dengan kesakralannya.
Sehingga, pengunjung yang memasuki tempat ini dilarang melakukan hal-hal di luar etika dan norma. (Rattiantic/Radar Jogja)
Baca Juga: 8 Pantai Hidden Gem di Gunungkidul Ini Masih Sepi Pengunjung, Berasa Pantai Milik Sendiri
Editor : Meitika Candra Lantiva