Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Oh Ternyata Begini Toh, Sejarah Konsumsi Susu di Indonesia. Jadi Simbol Naik Strata?

Meitika Candra Lantiva • Senin, 22 Januari 2024 | 17:45 WIB

 

Konsumsi minum susu ternyata jadi budaya yang belum banyak orang mengetahuinya. Begini sejarahnya !
Konsumsi minum susu ternyata jadi budaya yang belum banyak orang mengetahuinya. Begini sejarahnya !


RADAR MALIOBORO – Sebagai salah satu sumber protein, susu bisa dikonsumsi oleh semua kalangan baik dewasa hingga anak-anak.

Susu memang minuman yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.


Di Indonesia, susu dapat ditemukan dengan mudah dan tersedia dengan banyak variasi.

Mulai dari susu kemasan cair dan bubuk import, serta susu segar produksi lokal.

Semuanya dapat ditemukan di pasar, mini market, warung-warung kecil sekitar rumah dengan harga yang variatif.


Dilansir dari portalrepublik.com Organisation for Economic Cooperation and Developmenht (OECD) mencatat, konsumsi susu di Indonesia mencapai 4,13/kg/kapita pada tahun 2023.

Tren ini mengalami kenaikan sekitar 0,11/kg/kapita dibanding tahun 2022.

Sementara itu, OECD memproyeksikan konsumsi susu masyarakat Indonesia akan menyentuh 5,01/kg/kapita pada tahun 2031.


Budaya minum susu di tanah air pertama kali dikenalkan oleh bangsa kolonial Belanda pada masa penjajahan.

Di Eropa, masyarakat menjadikan susu sebagai minuman wajib, karena mereka percaya akan manfaat susu bagi kesehatan tubuh.

Selain itu, kondisi geografis di negara Eropa sangat mendukung untuk kegiatan beternak sapi perah.

Baca Juga: Angin Masih Kencang, Nelayan Pantai Samas Curi Waktu Melaut


Hal ini berbeda di negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, dimana masyarakatnya justru fokus bercocok tanam.

Faktor ini yang membuat bangsa colonial membawa tradisi minum susu ke Indonesia.


Untuk dapat minum susu segar seperti di negaranya, Belanda sampai mengimpor sapi dari negara India, Belanda, dan Australia pada saat itu.


Sapi perah yang didatangkan lalu dibudidayakan di kawasan dingin mirip negara asalnya yaitu di kawasan lembang, Bandung.


Meski diimpor ke Indonesia, sapi perah tersebut bertujuan hanya untuk memenuhi kebutuhan minum susu orang-orang Belanda dan bukan termasuk pribumi.

Disamping untuk memenuhi gizi, orang Belanda percaya susu dapat menghangatkan dan meningkatkan vitalitas tubuh.


Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia saat itu, khususnya orang jawa yang meyakini susu merupakan minuman yang menjijikkan yang berasal dari nanah kerbau atau sapi.


Setelah penjajahan usai, wilayah-wilayah yang dulunya diduduki Belanda, masyarakatnya mulai meniru kebiasaan minum susu.

Dimulai dari kalangan priyayi, dan masyarakat menengah keatas yang memiliki akses pendidikan tinggi dan menyadari berbagai manfaat dari susu.


Dari sinilah budaya minum susu berkembang menjalar hinggan ke berbagai kalangan masyarakat.

Semula hanya beberapa kalangan masyarakat saja yang mengkonsumsi susu, namun karena iklan juga turut menyebarkan, akhirnya menciptakan minat yang kuat di berbagai lapisan masyarakat untuk mengonsumsi susu.


Iklan susu juga dibuat semenarik mungkin, dan mulai di promosikan lebih massif lagi di media sebagai bentuk propaganda membudayakan minum susu di Indonesia.

Beberapa korporasi besar produsen susus sukses membidik pasar Indonesia seperti Nestle, Dananoe, Frisian Flag, dan masih banyak lagi. (Zulfa/Radar Malioboro)

Baca Juga: Putusan MK Terkait Batas Usia Capres-cawapres Bermasalah, Akademisi UGM: Bawaslu Masih Bisa Meluruskan

Editor : Meitika Candra Lantiva
#protein #konsumsi #Naik Strata #susu #indonesia #sejarah #simbol #peninggalan belanda #bukti