Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan, Perayaan Keagamaan Umat Hindu di Bali. Berikut Penjelasannya!

Silviananda Latifah Helen • Sabtu, 2 Maret 2024 - 18:39 WIB
Perayaan Hari Galungan Bali 2011.
Perayaan Hari Galungan Bali 2011.

RADAR MALIOBORO - Hari Raya Galungan adalah salah satu perayaan keagamaan penting bagi umat Hindu di Indonesia.

Hari Raya Galungan dirayakan setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari dalam kalender Bali.

Perayaan ini memiliki makna yang dalam, merayakan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran) serta untuk memperingati terciptanya alam semesta dan seluruh isinya.

Selain itu, Hari Raya Galungan juga merupakan ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara dengan melakukan persembahan.

Perayaan ini memiliki makna mendalam dan diawali dengan serangkaian kegiatan yang sarat akan nilai-nilai spiritual dan tradisi.

Sejarah dan Makna


Sejarah awal perayaan Galungan tidak diketahui secara pasti, namun menurut catatan dalam Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada tahun 882 Masehi.

Sebelum terkenal nya perayaan galungan di Bali, sudah diyakini umat Hindu di berbagai penjuru Indonesia sudah merayakannya.

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti bertarung atau menang.

Perayaan ini juga menunjukkan pentingnya keluarga dan kebersamaan dalam tradisi Hindu.

Rangkaian Acara

Perayaan Galungan Bali diwarnai dengan umbul-umbul dari rangkaian kreasi janur (penjor).
Perayaan Galungan Bali diwarnai dengan umbul-umbul dari rangkaian kreasi janur (penjor).

Umat Hindu memasang penjor (hiasan bambu) di sepanjang jalan di depan rumah mereka untuk merayakan Hari Raya Galungan, sebagai aturan kehadapan Bhatara Mahadewa.

Selain itu, terdapat pula perayaan Hari Kuningan yang jatuh 10 hari setelah Galungan, dimana umat Hindu memohon keselamatan, perlindungan, dan tuntunan lahir-batin kepada Dewa, Bhatara, dan para Pitara.

Perayaan Hari Raya Galungan merupakan momen penting dalam agama Hindu yang dirayakan dengan serangkaian acara sakral.

Berikut adalah rangkaian acara Galungan:

1. Tumpek Wariga, menjadi awal dari rangkaian acara Galungan, di mana umat Hindu memuja Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh.

Kegiatan ini dilakukan sekitar 25 hari sebelum Hari Galungan.


2. Selanjutnya, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Dilakukan untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual.


3. Hari Penyekeban, merupakan hari di mana umat Hindu melakukan penyucian diri melalui mandi dan pembersihan fisik.


4. Hari Penyajan adalah saat untuk memohon pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


5. Hari Penampahan, yang merupakan hari terakhir sebelum Kuningan, ditandai dengan pencabutan penjor yang dipasang sejak hari penampahan Galungan, kemudian penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah.


6. Hari Ulihan, yang dirayakan sebagai hari kembalinya para dewata dan leluhur ke kahyangan dengan memberikan berkat.


7. Hari Pemacekan Agung, menunjukkan keteguhan iman umat manusia atas segala godaan selama perayaan Galungan.


8. Hari Kuningan memiliki makna kebahagiaan, keberhasilan, dan kesejahteraan.

Rangkaian acara Galungan tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga sarana untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan dalam komunitas Hindu.

Melalui perayaan ini, umat Hindu mengenang kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (kebatilan) serta mengungkapkan rasa syukur dengan semarak.

Dengan demikian, Hari Raya Galungan bukan hanya sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga simbol dari kesetiaan umat Hindu dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur yang telah turun-temurun.

Perayaan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar sesama umat Hindu serta menjaga warisan budaya yang kaya akan makna dan kearifan lokal.

 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#makna #hari raya galungan #keagamaan #bali #penjelasan #sejarah #umat hindu #perayaan