RADAR MALIOBORO - Banyak orang sering menggunakan nama "Solo" dan "Surakarta" secara bergantian untuk merujuk pada kota yang sama.
Namun, kedua nama tersebut sebenarnya memiliki perbedaan yang signifikan.
Apa sebenarnya yang membedakan Solo dan Surakarta?
Asal Usul Nama Surakarta
Secara historis, Surakarta merupakan nama yang sebelumnya dikenal sebagai Kasunanan Surakarta, salah satu kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-18.
Nama Surakarta yang awalnya adalah nama keraton kemudian digunakan secara resmi sebagai nama administratif kota.
Munculnya Nama Solo
Istilah "Solo" mulai muncul pada awal abad ke-20 sebagai penyebutan informal untuk Kota Surakarta.
Nama ini semakin populer di kalangan masyarakat, bahkan ada yang melafalkannya sebagai “Solo” dan “Sala” meskipun secara resmi kota ini tetap disebut Surakarta.
Awalnya, Keraton Surakarta berada di Kartasura. Namun, setelah Geger Pecinan yang berakibat pemberontakan pada tahun 1740, keraton Kartasura dianggap kehilangan "kesuciannya" dan dipindahkan ke Desa Sala yang berada di tepi Sungai Bengawan Solo.
Pelafalan "Sala" kemudian diubah menjadi "Solo" agar lebih mudah diucapkan oleh orang Belanda.
Perbedaan Konteks Budaya dan Politik
Dari konteks budaya dan politik, Surakarta dianggap memiliki warisan budaya Jawa yang lebih kental, terutama terkait dengan tradisi Keraton Surakarta.
Sementara Solo lebih dikenal sebagai kota modern dengan perkembangan ekonomi yang pesat.
Meskipun begitu, baik Solo maupun Surakarta tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya Jawa yang kaya.
Perdebatan mengenai penggunaan nama ini terus berlangsung hingga kini, namun keduanya tetap menjadi representasi identitas kota yang sama. (Akmal Haidar Alfath)
Editor : Winda Atika Ira Puspita