RADAR MALIOBORO - Yogyakarta, dengan pesona budaya dan sejarahnya, tak hanya menawarkan keindahan destinasi wisata alam dan cagar historis, tetapi juga menyimpan berbagai mitos dan pantangan yang masih dipercayai hingga kini. Baik oleh penduduk setempat maupun para wisatawan, cerita-cerita ini menambah kekayaan budaya Jogja dan memberikan nuansa misteri yang menarik. Meski begitu, terlepas dari kepercayaan pribadi, menghormati tradisi dan keyakinan setempat adalah bagian dari etika berkunjung yang bijak.
1. Larangan Memakai Baju Hijau di Pantai Selatan
Pantai Selatan Jogja terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidul, sang Ratu Pantai Selatan. Konon, memakai baju hijau di pantai ini dianggap sebagai sebuah undangan bagi Nyi Roro Kidul untuk menarik pemakai baju hijau tersebut ke laut. Warna hijau dipercaya sebagai warna kesukaan Nyi Roro Kidul, sehingga pantangan ini dipegang teguh oleh masyarakat setempat.
Mengenai larangan memakai baju hijau di Pantai Selatan, pada tahun 2019 silam, Sri Sultan menegaskan bahwa pengunjung bebas memilih warna pakaian mereka. Menurut Koordinator SAR Parangtritis, larangan tersebut hanyalah mitos, dan keselamatan pengunjung lebih tergantung pada kepatuhan terhadap aturan keselamatan daripada warna pakaian. Peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya, Mudjijono, menambahkan bahwa larangan ini kemungkinan besar berasal dari upaya masyarakat dulu untuk memberikan pendidikan melalui mitos. Terlepas dari ini, penting untuk selalu menghormati kepercayaan dan tradisi lokal.
2. Tradisi Masangin di Alun-Alun Kidul
Alun-Alun Kidul Yogyakarta memiliki tradisi unik yang disebut Masangin, yakni berjalan di antara dua pohon beringin besar dengan mata tertutup. Mitosnya, jika berhasil melewati kedua pohon tersebut dengan mata tertutup, keinginan seseorang akan terkabul. Tantangan ini sering diikuti oleh wisatawan yang ingin menguji keberuntungan mereka.
3. Membawa Pasangan ke Candi Prambanan
Candi Prambanan, selain terkenal dengan keindahan arsitekturnya, juga menyimpan mitos tentang hubungan asmara. Mitos ini berasal dari kisah Roro Jonggrang dan Prabu Bondowoso. Dikatakan bahwa membawa pasangan ke Candi Prambanan akan menyebabkan hubungan berakhir tragis seperti kisah cinta mereka yang penuh dengan kesedihan dan kutukan. Meskipun tidak semua orang percaya, banyak pasangan yang menghindari mengunjungi candi ini bersama.
4. Larangan Menggunakan Batik Bermotif Garuda di Keraton
Keraton Yogyakarta memiliki aturan khusus mengenai pemakaian batik. Batik dengan motif garuda adalah busana khas Sri Sultan Hamengkubuwono, penguasa Kraton Yogyakarta. Memakai batik bermotif garuda di dalam kawasan Keraton dianggap membawa sial karena motif tersebut seharusnya hanya dikenakan oleh Sultan. Wisatawan dianjurkan untuk memilih motif batik lainnya saat berkunjung ke Keraton.
Mau percaya atau tidak, menghormati tradisi dan kepercayaan setempat adalah hal yang penting. Saat berkunjung ke Jogja, tidak ada salahnya untuk mengikuti pantangan dan mitos yang ada sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal. Setiap tempat memiliki cerita dan kepercayaan yang menjadikannya unik, dan menghargai hal tersebut adalah bagian dari pengalaman wisata yang penuh makna.
(Rinda Martisa Fiorentina)
Sumber: Berbagai Sumber
Editor : Iwa Ikhwanudin