Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

NOSTALGIA: Mengingat Kunjungan Bersejarah Raja Charles III dan Putri Diana di Keraton Yogyakarta Tahun 1989

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 26 Juli 2024 | 04:31 WIB
Pangeran Charles dan Putri Diana bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X dan permaisuri GKR Hemas di Keraton Yogyakarta, Kunjungan Pangeran Charles ke hutan Wanagama.
Pangeran Charles dan Putri Diana bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X dan permaisuri GKR Hemas di Keraton Yogyakarta, Kunjungan Pangeran Charles ke hutan Wanagama.

RADAR MALIOBORO - Pada tahun 1989, Keraton Yogyakarta menyambut tamu istimewa yang meninggalkan jejak dalam sejarah hubungan internasional dan budaya. Saat itu, Raja Charles III, yang masih berstatus sebagai Pangeran Wales, dan Putri Diana melakukan kunjungan resmi ke Indonesia, termasuk ke Keraton Yogyakarta. Peristiwa ini menjadi momen penting yang mempererat hubungan antara Inggris dan Indonesia serta memperkenalkan budaya Jawa kepada dunia.

Kedatangan Pangeran Charles dan Putri Diana ke Indonesia dimulai di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pada Jumat, 3 November 1989. Mereka tiba dengan pesawat Royal Air Force tipe BAC/Vickers VC 10 pada pukul 15.51 WIB. Kedatangan mereka disambut oleh sejumlah pejabat negara, termasuk Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto, dan Pangdam V Jaya Mayor Jenderal Surjadi Soedirdja. Dari bandara, mereka dibawa dengan mobil sedan Mercedes Benz seri S menuju Istana Negara, di mana mereka disambut oleh Presiden Soeharto dan Tien Soeharto.

Putri Diana kemudian mengunjungi Rumah Sakit Kusta Sitanala di Tangerang. Dalam kunjungannya, Putri Diana membuat sejarah dengan menyentuh pasien kusta, sebuah tindakan yang mengubah pandangan dunia terhadap penyakit ini. Putri Diana menggunakan pengaruhnya untuk menantang prasangka dan stigma yang melekat pada penyakit tersebut, sama seperti yang pernah dilakukannya dengan pasien HIV/AIDS.

Selanjutnya, pasangan kerajaan ini melanjutkan kunjungan mereka ke Yogyakarta. Mereka disambut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang baru dinobatkan pada 7 Maret 1989, bersama permaisuri GKR Hemas di Keraton Yogyakarta. Pertunjukan seni seperti tarian tradisional dan wayang kulit dipentaskan untuk menyambut para tamu kehormatan dari Kerajaan Inggris. 

Selain bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Pangeran Charles dan Putri Diana juga mengunjungi Hutan Wanagama di Kabupaten Gunungkidul. Hutan Wanagama pada masa itu menjadi salah satu potret keberhasilan mengubah kondisi lahan gersang dan gundul menjadi hutan hijau yang produktif. Berdasarkan Surat Keterangan Direktur Jenderal Kehutanan No. 241/Kpts/DJ/I/1982, Hutan Wanagama I diresmikan sebagai hutan pendidikan dan menjadi perhatian publik, termasuk menarik perhatian Raja Charles III.

Mengutip dari situs resmi hutan pendidikan Wanagama, Raja Charles III, yang saat itu masih menjadi Pangeran Charles, menjadi tokoh dunia pertama yang menginjakkan kaki di Hutan Wanagama pada 5 November 1989. Didampingi oleh Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Emil Salim, Pangeran Charles mendapat penjelasan tentang sejarah dan keberhasilan proyek penghijauan tersebut dari Prof. Oemi Hani’in Suseno dan timnya. Kunjungan ini menyoroti pentingnya upaya pelestarian lingkungan dan penghijauan lahan kritis.

Kunjungan Pangeran Charles dan Putri Diana ke Yogyakarta tidak hanya menjadi momen bersejarah bagi kedua negara, tetapi juga memperkuat apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia di mata dunia. Kunjungan ini membuktikan bahwa budaya dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarnegara dan memperdalam pemahaman lintas budaya.

Baca Juga: Bikin Jantung Copot, Ini Dia 10 Rekomendasi Film Horror Yang Wajib Ditonton Saat Malam Jumat, Berani Nonton?

Kini, lebih dari tiga dekade setelah kunjungan bersejarah tersebut, kenangan akan momen tersebut masih tetap hidup di hati masyarakat Yogyakarta. Kunjungan Raja Charles III dan Putri Diana ke Keraton Yogyakarta pada tahun 1989 tetap menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah diplomasi dan budaya antara Inggris dan Indonesia.

(Rinda Martisa Fiorentina)

Sumber: wanagama.fkt.ugm.ac.id, leprosymission.org dan berbagai sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
#lady diana #wanagama #pangeran charles #sejarah Jogja