RADAR MALIOBORO - Fransiskus Xaverius Basuki Abdullah, atau yang lebih dikenal dengan nama Basoeki Abdullah, lahir pada 25 Januari 1915 dan dikenal sebagai salah satu pelukis terkemuka Indonesia. Di masa hidupnya, ia diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai pelukis Istana Merdeka, Jakarta, sehingga karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, serta menjadi koleksi di berbagai penjuru dunia.
Basoeki Abdullah adalah seniman besar yang tidak hanya mengandalkan bakat alami, tetapi juga mewarisi jiwa seni dari kedua orang tuanya. Ibunya, Raden Nganten Ngadisah, merupakan pembatik yang mahir, sementara ayahnya, R. Abdullah Suriosubroto, dikenal sebagai pelukis naturalis dengan karya-karya pemandangan yang memukau. Selain itu, Basoeki Abdullah juga mengenyam pendidikan seni di Belanda, yang semakin memperkaya kemampuannya.
Meskipun telah memiliki bakat dan pendidikan yang mumpuni, Basoeki Abdullah tetap berusaha memperluas wawasan seninya dengan membaca buku-buku tentang seni lukis dan seni secara umum. Keahliannya dalam melukis menciptakan karya-karya naturalis yang luar biasa dan sulit ditandingi di Indonesia. Namun, untuk mencapai taraf internasional, Basoeki Abdullah harus melalui perjalanan karir yang panjang, melalui berbagai fase latihan, pendidikan, dan pengalaman yang luas.
Namun, pada tanggal 5 November 1993, tragedi menimpa Basoeki Abdullah. Ia ditemukan tewas di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan. Basoeki Abdullah menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh perampok yang masuk ke rumahnya. Dalang dari perampokan tersebut adalah Wahyudi, mantan tukang kebunnya.
Karya-karya Basoeki Abdullah dikenal karena mengikuti tradisi melukis Romantisisme dan Naturalisme. Lukisan-lukisannya sering kali memanjakan mata dan memberikan kesan keindahan yang nyata, meskipun gagasan-gagasannya tidak selalu memperlihatkan sisi terdalam dari suatu ide. Karya-karyanya lebih menekankan pada keindahan visual, menjadikannya seorang pelukis yang sangat memperhatikan estetika fisik..
Lukisan-lukisan Basoeki Abdullah dapat diklasifikasikan dalam lima kategori tema:
1. Potret
Kategori ini mencakup potret tokoh-tokoh penting maupun lukisan potret pesanan yang pernah dibuat oleh Basoeki Abdullah. Karya-karya dalam kategori ini sangat menekankan pada kemiripan wajah dan presisi teknik, menjadikannya dokumen visual yang sangat berharga. Contoh dari kategori ini adalah self-portrait.
2. Figur Manusia
Dalam kategori ini, Basoeki Abdullah mengeksplorasi berbagai figur manusia tanpa memandang ketokohan subjek. Karya-karya ini sering menampilkan tubuh manusia secara utuh dan biasanya tidak terkait dengan seni pesanan. Kategori ini mencakup figur-figur perempuan telanjang, aktivitas budaya, serta kehidupan sehari-hari.
3. Lanskap Alam
Lukisan-lukisan bertema pemandangan alam, aktivitas masyarakat, hingga objek binatang dan tumbuhan termasuk dalam kategori ini. Basoeki Abdullah menggabungkan elemen-elemen alam dengan gaya lukisan Inggris seperti John Constable dan William Turner, meskipun tetap mempertahankan keaslian objek yang digambarnya.
4. Drama, Mitos, dan Spiritualitas
Kategori ini mencerminkan pandangan religius dan spiritual Basoeki Abdullah yang kerap menggabungkan elemen-elemen mitos dan cerita rakyat. Lukisan-lukisan seperti cerita pewayangan, Nyi Roro Kidul, dan Korban Kelaparan di Padang Tandus termasuk dalam kategori ini.
5. Kebangsaan
Kategori ini terdiri dari karya-karya yang menyoroti isu-isu nasionalisme dan sejarah bangsa. Potret para pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro dan Dr. Wahidin Sudirohusodo, serta karya-karya yang mendukung gerakan kebudayaan nasional dimasukkan dalam kategori ini.
Basoeki Abdullah bukan hanya seorang seniman besar, tetapi juga seorang tokoh yang meninggalkan jejak tak terlupakan dalam sejarah seni rupa Indonesia. Tragedi kematiannya yang tragis pada tahun 1993 menambah sisi kelam dari kisah hidupnya, namun warisan seni yang ia tinggalkan akan terus dikenang dan diapresiasi oleh generasi mendatang.
(Rinda Martisa Fiorentina)
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id
Editor : Iwa Ikhwanudin