RADAR MALIOBORO – Surakarta merupakan salah satu kota yang kaya akan sejarah. Di Tengah hiruk pikuk perkotaan, berdirilah sebuah bangunan sejarah yang bernama Gedung Djoeang 45.
Bangunan ini menyimpan banyak cerita mulai dari masa penjajahan Belanda. Pembangunan Gedung Djoeang 45 dilakukan sejak tahun 1876 hingga 1880 oleh pemerintahan Hindia Belanda.
Lokasi gedung berada di sebelah timur Benteng Trade Center (BTC), tepatnya di Kedung Lumbu, Kecamatan Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Terpantau sangat dekat dengan pusat Kota Solo, sehingga wisatawan akan lebih mudah mencari alamat Gedung Djoeang 45.
Selain itu, keberadaan lokasi yang strategis membuat gedung ini berdekatan dengan destinasi wisata lainnya antara lain ada Pasar Triwindu, Pasar Gede, Pura Mangkunegaraan dan masih banyak lagi.
Dikutip dari laman resmi Surakarta.go.id, jam operasional gedung dibuka mulai pukul 17.00 hingga pukul 00.00 WIB. Kemudian untuk tarif parkirnya seharga Rp. 3.000. Jika memasuki area dalam gedung wisatawan perlu membayar Rp. 15.000.
Penggunaan Gedung Djoeang 45 berawal dari tempat pelayanan kantin untuk Tentara Belanda. Dulunya dikenal Cantienstraat dan sudah berlangsung lama hingga tahun 1942.
Berhubung Benteng Vastenburg sudah tidak muat untuk menampung tentara, dimanfaatkan lagi Gedung Djoeang 45 sebagai asrama militer tambahan. Sempat juga gedung ini digunakan sebagai kliniknya Tentara Belanda.
Gedung Djoeang 45 juga sempat direbut oleh Pasukan Nippon saat Jepang mulai menjajah Indonesia. Pasukan yang merebut dijuluki Senkokan dan gedung pun dimanfaatkan sebagai markas sekaligus baraknya militer di masa itu.
Ketika memasuki kemerdekaan Indonesia, gedung ini diambil alih dan dikelola oleh Pemerintah Indonesia. Penggunaan fasilitas gedung juga berbeda-beda mulai dari panti asuhan, markas TNI hingga kantor pengurus DHC’45.
Pada akhirnya setelah melewati sejarah Panjang, gedung diresmikan sebagai tempat wisata pada tahun 2019.
Adapun aktivitas yang bisa wisatawan lakukan saat berkunjung ke Gedung Djoeang 45 adalah menikmati kemegahan arsitektur khas bangunan Eropa. Wisatawan dapat mengeksplor bagian dalam hingga bagian sudut ke sudut gedung ini.
Di dalam gedung wisatawan akan diperlihatkan sebuah Monumen Laskar Putri Surakarta. Monumen ini adalah penanda sejarah hadirnya kaum Perempuan yang ikut dalam masa perjuangan serangan 4 hari tahun 1949.
Area luar juga dipenuhi tempat duduk untuk bersantai ria sambil menikmati keindahan bangunan gedungnya.
Wisatawan pun dapat berburu kuliner karena bangunan gedung menyediakan hidangan gastronomi. Tak hanya menikmati hidangan, tetapi juga mengetahui proses pembuatannya.
Kemudian wisatawan dapat belajar sejarah juga di gedung Djoeang 45. Berbagai foto-foto bersejarah beserta penjelasannya pun tersedia di gedung ini.
Aktivitas hunting foto juga jangan terlewatkan sedikit pun. Karena dari segi estetika, suasana Belanda yang masih tersisa tentu mendukung pada sebuah foto.
Apalagi di sore hari, nuansa kelap-kelip lampu hias akan terasa semakin indah untuk berfoto ria.
Menjadi salah satu warisan arsitektur Belanda dan menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia, tak heran Gedung Djoeang 45 sangat bermanfaaat bagi para pecinta sejarah.
Mengunjungi destinasi satu ini tak hanya menambah wawasan, tetapi juga memberi pengalaman berharga dalam nilai nasionalisme dari diri masing-masing.
Penulis: Razmarita Dyasprinasti
(Berbagai Sumber)