Radar Malioboro - Menjelang hari kemerdekaan Indonesia, kita selalu dibuat ingat akan perjuangan dua tokoh proklamasi–Soekarno dan Hatta. Namun di balik proklamasi yang menggema pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, ada sejumlah tokoh yang namanya jarang kita dengar, padahal mereka juga tidak kalah berjasa bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Simak nama-namanya berikut ini:
1. Mr. A.A. Maramis – Intelektual Pengawal Piagam Jakarta
Alexander Andries Maramis adalah seorang sarjana hukum lulusan Universitas Leiden yang aktif dalam sidang BPUPKI. Ia merupakan anggota Panitia Sembilan, tim penting yang merumuskan Piagam Jakarta—cikal bakal Pancasila. Dalam sidang tersebut, Maramis mengusulkan agar orang-orang non-pribumi seperti keturunan Arab, Tionghoa, dan Eropa yang lahir dan tinggal di Indonesia diakui sebagai warga negara. Pandangannya mencerminkan visi kebangsaan yang inklusif dan berani menembus sekat etnis.
Setelah proklamasi, Maramis dipercaya untuk mengemban berbagai tugas negara. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, dan utusan diplomatik Indonesia dalam forum-forum penting. Kecintaan dan komitmennya terhadap republik tak pernah surut, bahkan hingga masa pensiunnya. Ia juga ditunjuk sebagai anggota tim penyusun tafsir resmi Pancasila di era Orde Baru.
2. KH. Abdul Kahar Mudzakkir – Ulama Pejuang Pendidikan
Lahir di Kotagede, Yogyakarta, Abdul Kahar Mudzakkir adalah tokoh yang menyatukan ilmu agama, nasionalisme, dan pendidikan. Sejak muda ia telah menuntut ilmu hingga ke Mesir, dan menjadi suara Indonesia di forum-forum Islam internasional. Salah satunya ketika ia menjadi peserta termuda dalam Muktamar Islam se-Dunia di Palestina tahun 1931. Di sana, ia memperkenalkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dan memperoleh dukungan dari berbagai tokoh dunia Islam.
Sepulang ke tanah air, ia bergabung dalam Muhammadiyah dan mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam. Bersama Bung Hatta, ia menjadi salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia (UII). Tak hanya sebagai akademisi, Kahar juga turun langsung ke pelosok desa untuk mengajar dan berdialog dengan rakyat. Ia percaya bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa diraih jika rakyat cerdas dan mandiri melalui pendidikan. Namanya kini tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia.
3. A.R. Baswedan – Nasionalisme dari Keturunan Arab.
Abdul Rahman Baswedan adalah tokoh keturunan Arab yang menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Indonesia tak mengenal batas etnis. Ia mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI) untuk menyatukan warga keturunan Arab agar aktif dalam perjuangan bangsa. Di tengah tekanan dan diskriminasi kolonial, A.R. Baswedan dengan tegas menyatakan bahwa tanah air peranakan Arab adalah Indonesia, bukan Tanah Arab. Pandangan ini menjadi tonggak penting dalam menyatukan keberagaman bangsa.
Perjuangan Baswedan tidak berhenti di dalam negeri. Ia menjadi bagian dari delegasi diplomatik yang berhasil memperoleh pengakuan kemerdekaan Indonesia dari negara-negara Arab. Kemampuannya berbahasa Arab dan keaktifannya dalam forum-forum internasional membuatnya dipercaya sebagai juru bicara bangsa. Bahkan ketika hidup dalam kesederhanaan dan tanpa kemewahan jabatan, ia tetap memilih untuk mengabdi. Di akhir hayatnya, ia menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Baca Juga: Bendera One Piece Banyak Dikibarkan Jelang Perayaan HUT RI, Pemerintah
4. Mr. Ahmad Soebardjo – Arsitek Diplomasi dan Proklamasi.
Ahmad Soebardjo adalah tokoh kunci yang mengawal peristiwa proklamasi dari balik layar. Ia berperan besar dalam membebaskan Soekarno dan Hatta dari Rengasdengklok dan menjamin kepada para pemuda bahwa proklamasi akan segera dilaksanakan. Bahkan, ia berkata tegas, “Jaminannya adalah nyawaku sendiri.” Ia juga berperan mengamankan proses penyusunan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda, tempat yang dianggap aman dari intervensi tentara Jepang.
Sebagai sarjana hukum lulusan Belanda, Soebardjo dikenal memiliki pemikiran tajam dan visi kebangsaan yang mendalam. Ia turut menyumbangkan kalimat pertama dalam teks proklamasi dan menjadi Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia. Pandangannya tentang politik luar negeri yang humanis dan inklusif menjadi pijakan penting dalam diplomasi Indonesia awal. Meski kiprahnya besar, ia tetap hidup sederhana dan tidak pernah mencari sorotan.
5. A.R. Sutan Sjahrir – Pemikir Perlawanan Bawah Tanah
Sutan Sjahrir adalah tokoh muda yang penuh idealisme. Ia memilih jalur bawah tanah untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, menolak bekerja sama dengan Jepang dan menanamkan semangat perlawanan secara diam-diam di kalangan rakyat. Pemikirannya yang tajam, pendidikan Barat yang luas, dan keterlibatannya dalam gerakan sosialis menjadikannya tokoh yang dihormati, bahkan oleh lawan politiknya.
Setelah Indonesia merdeka, Sjahrir diangkat menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh moderat yang gigih menjaga wajah Indonesia sebagai negara yang demokratis dan terbuka. Dalam berbagai perundingan internasional, Sjahrir tampil sebagai diplomat ulung yang berhasil membawa simpati dunia kepada Indonesia. Sayangnya, kiprah politiknya kemudian meredup karena perbedaan ideologi dengan rezim yang berkuasa. Meski demikian, pemikirannya tetap hidup sebagai warisan kebangsaan yang bernilai.
6. Haji Agus Salim – Diplomat Tangguh di Panggung Dunia
Haji Agus Salim adalah tokoh karismatik yang memainkan peran penting dalam perjuangan diplomatik Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, fasih dalam banyak bahasa, dan memiliki pemahaman mendalam tentang agama dan politik. Saat Jepang menjajah Indonesia, Agus Salim tidak serta-merta bekerja sama, tapi tetap berada di tengah-tengah rakyat dan memperjuangkan kemerdekaan dengan caranya sendiri.
Setelah kemerdekaan, Agus Salim diangkat sebagai Menteri Muda Luar Negeri. Salah satu jasanya yang paling dikenang adalah peran aktifnya dalam mendapatkan pengakuan kedaulatan Indonesia dari negara-negara Arab melalui jalur diplomasi. Dalam kunjungannya ke Timur Tengah, ia bersama A.R. Baswedan berhasil membawa pulang dokumen dukungan penting dari Liga Arab. Kiprahnya di panggung internasional membuat dunia mulai melirik Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat. Meski hidup sederhana hingga akhir hayatnya, warisan perjuangannya sangat besar bagi Republik.
7. Ki Bagus Hadikusumo – Suara Islam dalam Perumusan Dasar Negara
Ki Bagus Hadikusumo adalah tokoh Muhammadiyah yang menjadi anggota penting dalam Panitia Sembilan, tim yang merumuskan Piagam Jakarta—cikal bakal Pancasila. Ia dikenal tegas dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam dasar negara, namun juga bijak dalam menjaga persatuan nasional. Meski awalnya bersikukuh agar “syariat Islam bagi pemeluknya” tetap dimuat dalam Piagam Jakarta, Ki Bagus akhirnya menyetujui penghapusan tujuh kata tersebut demi menjaga keutuhan bangsa yang majemuk.
Keputusan besar itu menunjukkan kebesaran jiwanya: lebih memilih keselamatan republik ketimbang kepentingan kelompok. Ia juga aktif dalam menyuarakan pentingnya pendidikan dan moral Islam dalam kehidupan berbangsa. Meski jarang disebut dalam narasi utama sejarah, peran Ki Bagus dalam menyatukan perbedaan pandangan ideologis di masa awal kemerdekaan menjadikannya sosok penting dalam sejarah lahirnya Indonesia.
8. Kasman Singodimedjo – Pejuang, Jaksa, dan Legislator
Kasman Singodimedjo adalah tokoh yang menonjol di bidang hukum, militer, dan politik. Ia pernah menjadi komandan pertama Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI) wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Jaksa Agung pertama Republik Indonesia. Dalam semua peran itu, Kasman dikenal sebagai figur yang bersih, religius, dan menjunjung tinggi nilai keadilan.
Ia juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan berkontribusi dalam pembentukan Undang-Undang Dasar 1945. Sebagai tokoh Islam, Kasman juga menjembatani antara kelompok religius dan nasionalis, mirip seperti Ki Bagus Hadikusumo. Ia berjuang lewat jalur hukum dan parlemen, bukan hanya melalui senjata. Kesetiaannya pada nilai-nilai demokrasi dan hukum membuatnya dihormati lintas golongan.
9. Prof. Dr. Soepomo – Arsitek Konstitusi Republik Indonesia
Soepomo adalah tokoh penting dalam perumusan Undang-Undang Dasar 1945. Ia menjadi arsitek utama sistem ketatanegaraan Indonesia pada awal kemerdekaan. Dalam sidang BPUPKI, Soepomo menyampaikan gagasan besar tentang “negara integralistik”—negara yang menyatukan seluruh unsur masyarakat dalam satu kesatuan utuh. Pandangannya itu kemudian menjadi salah satu dasar dalam struktur UUD 1945.
Meski konsep integralistiknya menuai kritik di masa berikutnya, Soepomo tetap dikenang sebagai pemikir brilian yang berusaha merumuskan sistem kenegaraan sesuai dengan nilai-nilai Indonesia. Ia juga aktif dalam pendidikan hukum dan dikenal sebagai pengajar yang berdedikasi. Karyanya dalam bidang konstitusi menjadi landasan hukum yang masih digunakan hingga kini.
10. Chairul Saleh – Jembatan Kaum Muda dalam Revolusi
Chairul Saleh adalah tokoh muda yang menjadi penghubung penting antara kelompok pemuda dan elite politik dalam masa-masa menjelang kemerdekaan. Ia merupakan salah satu penggerak utama penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Bagi Chairul dan rekan-rekannya, kemerdekaan adalah harga mati yang harus diproklamasikan segera, tanpa menuggu restu Jepang. Aksinya mencerminkan semangat revolusioner generasi muda saat itu.
Pasca-kemerdekaan, Chairul Saleh menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan juga menjadi salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Orde Lama. Ia dikenal sebagai pemuda vokal, progresif, dan nasionalis. Meski kemudian karier politiknya naik-turun, warisannya dalam mempercepat lahirnya proklamasi dan memberi ruang bagi suara pemuda tetap dikenang dalam sejarah republik.
Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8380/1/SERI%20PENGENALAN%20TOKOH%20SEKITAR%20PROKLAMASI%20KEKERDEKAAN.pdf
(Athifah Dihyan Calysta)
Editor : Iwa Ikhwanudin