RADAR MALIOBORO - Sekaten adalah tradisi tahunan yang sangat terkenal di Yogyakarta dan Surakarta, yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, atau Maulid Nabi. Tradisi ini berakar dari masa Kerajaan Demak pada abad ke-15, ketika penyebaran agama Islam mulai dilakukan secara intensif. Raden Patah, Sultan pertama Kerajaan Demak, dianggap sebagai tokoh yang memperkenalkan tradisi Sekaten sebagai media dakwah Islam dengan menggunakan kesenian dan budaya lokal.
Baca Juga: Event SiBakul Financetopia X Festival Malioboro #3 15 sampai 19 Oktober 2025 Hadirkan Pameran Jajanan Lawas dan Penampilan Seni Lokal
Istilah "Sekaten" sendiri diyakini berasal dari beberapa makna, salah satunya adalah kata "Syahadatain," yaitu dua kalimat syahadat yang menjadi inti keimanan dalam Islam. Tradisi ini bertujuan menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang menarik dan menghibur, yaitu melalui musik gamelan yang dimainkan secara khusus dalam upacara Sekaten. Gamelan yang digunakan adalah gamelan pusaka keraton yang ditabuh selama beberapa hari berturut-turut, dimulai pada tanggal 5 hingga 11 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.
Baca Juga: Julia Prastini Diterpa Isu Perselingkuhan, Foto Mesra dengan Petinju Safrie Ramadan Viral di Media Sosial
Selama perayaan Sekaten, gamelan tersebut dibawa dari keraton menuju masjid agung dan terus ditabuh setiap hari kecuali sebelum waktu salat dan pada malam Jumat. Puncak acara Sekaten biasanya ditandai dengan Grebeg Maulud pada hari ke-12 Rabiul Awal, yang merupakan prosesi besar dan penuh makna religius serta budaya. Prosesi ini melibatkan berbagai elemen keraton, masyarakat, dan simbol-simbol keagamaan yang mencerminkan akulturasi budaya Jawa dengan Islam.
Baca Juga: Rahasia Glow Up Alami! Panduan Kilat Meracik Air Mawar untuk Face Spray
Sekaten tidak hanya menjadi ajang perayaan keagamaan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang kaya dengan nilai-nilai sosial dan spiritual. Acara ini menunjukkan bagaimana Islam disebarkan dengan cara yang menghormati tradisi lokal dan menggabungkan seni serta musik sebagai media dakwah yang efektif dan memikat hati masyarakat pada masa itu hingga kini. Tradisi ini pun terus dilestarikan dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Yogyakarta dan sekitarnya.
(Adessia Miftahullatifah)