RADAR MALIOBORO - Di tengah hiruk pikuk Malioboro yang tak pernah sepi, berdiri sebuah bangunan kokoh penuh sejarah yaitu Benteng Vredeburg. Bangunan bergaya kolonial ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kota Yogyakarta sejak masa penjajahan Belanda hingga era kemerdekaan Indonesia. Kini, benteng tersebut tak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga simbol perjuangan dan perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.
Baca Juga: Waspada, Terlalu Sering Makan Ramen Bisa Tingkatkan Risiko Kematian Dini
Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1760 atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono I, atas permintaan Gubernur Belanda waktu itu, Nicolaas Hartingh. Awalnya, benteng ini bernama Rustenburg, yang berarti “tempat peristirahatan”. Namun, tujuan sebenarnya jauh dari sekadar tempat singgah Belanda membangunnya untuk mengawasi Keraton Yogyakarta yang baru berdiri setelah Perjanjian Giyanti.
Baca Juga: Diborgol dan Ditutup Matanya, Ammar Zoni Dipindah ke Nusakambangan, Biar Kapok!
Dari letaknya yang hanya beberapa ratus meter dari keraton, jelas terlihat strategi politik Belanda untuk mengontrol pergerakan Kesultanan Yogyakarta. Dengan menempatkan pasukan di dalam benteng, Belanda bisa dengan mudah memantau dan mengendalikan situasi politik di wilayah tersebut.
Baca Juga: Di balik Bentuknya Yang Indah Ternyata Menyimpan Sesuatu, Ini Dia Sederet Fakta Menarik dari Bunga Melati!
Setelah sempat mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada tahun 1867, benteng kemudian dibangun kembali dan berganti nama menjadi Vredeburg, yang berarti “Benteng Perdamaian”. Nama ini dipilih dengan alasan simbolis menggambarkan “hubungan damai” antara Belanda dan pihak keraton. Namun, di balik nama itu, tetap tersimpan aroma pengawasan dan penjajahan yang kuat.
Baca Juga: Sejarah Benteng Vredeburg Sebagai Benteng Pertahanan Belanda di Yogyakarta
Seiring berjalannya waktu, Benteng Vredeburg menjadi tempat penting dalam berbagai peristiwa sejarah. Pada masa pendudukan Jepang, benteng ini digunakan sebagai barak militer dan penjara bagi para tahanan politik. Setelah kemerdekaan Indonesia, benteng sempat dikuasai oleh TNI dan digunakan sebagai markas militer.
Baca Juga: Sejarah Panjang Sekaten Sebagai Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Baru pada 1980-an, benteng ini beralih fungsi menjadi museum perjuangan atas inisiatif pemerintah dan pihak keraton. Pada tahun 1992, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta resmi dibuka untuk umum. Di dalamnya kini terdapat diorama yang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia dari masa penjajahan hingga kemerdekaan.
Baca Juga: Event SiBakul Financetopia X Festival Malioboro #3 15 sampai 19 Oktober 2025 Hadirkan Pameran Jajanan Lawas dan Penampilan Seni Lokal
Benteng Vredeburg tak hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga pusat edukasi bagi generasi muda. Setiap tahunnya, ribuan pelajar dan wisatawan datang untuk mempelajari sejarah perjuangan bangsa melalui koleksi diorama, foto, dan arsip bersejarah yang tersimpan di dalamnya.
Selain itu, suasana klasik benteng dengan dinding putih tebal, meriam kuno, dan halaman luas menjadikannya spot favorit wisatawan untuk berfoto atau menikmati suasana tempo dulu.
(Dela Apriyanti)