RADAR MALIOBORO – Candi Borobudur, yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, adalah sebuah mahakarya arsitektur Buddha yang tidak hanya menakjubkan dari segi fisik, tetapi juga kaya akan sejarah dan makna spiritual. Dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra yang beragama Buddha Mahayana, candi ini menjadi candi Buddha terbesar di dunia dan diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, menarik jutaan pengunjung dari seluruh dunia setiap tahun.
Pembangunan Borobudur diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga sekitar tahun 824 M. Dalam konteks sejarah, candi ini mencerminkan kekuatan dan pengaruh Dinasti Syailendra, yang merupakan dinasti yang sangat mendukung perkembangan agama Buddha di Jawa. Para sejarawan memperkirakan bahwa pembangunan Borobudur memakan waktu sekitar setengah abad, selesai pada masa pemerintahan putrinya, Ratu Pramudawardhani. Dalam legenda, arsitek yang merancang candi ini adalah Gunadharma, yang konon memiliki kemampuan luar biasa dalam merancang struktur yang kompleks dan megah.
Setelah selesai dibangun, Borobudur menjadi pusat kegiatan keagamaan dan spiritual bagi umat Buddha. Namun, pada abad ke-10, candi ini mulai ditinggalkan, seiring dengan berpindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur. Proses ini diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk pergeseran politik dan sosial, yang membuat Borobudur kurang relevan sebagai pusat spiritual. Akibatnya, candi ini perlahan-lahan terkubur oleh abu vulkanik dari letusan gunung berapi dan ditutupi oleh hutan selama berabad-abad.
Borobudur ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Penemuan ini menjadi titik balik bagi Borobudur, yang kembali mendapatkan perhatian internasional. Raffles sangat terkesan dengan ukuran dan keindahan candi ini, sehingga ia mendorong penggalian dan penelitian lebih lanjut.
Upaya pemugaran besar-besaran dilakukan antara tahun 1975 hingga 1982, yang melibatkan kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO. Proses pemugaran ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan candi, tetapi juga untuk mengembalikan keindahan dan makna spiritualnya. Selain itu, pemugaran ini juga mencakup penyelidikan arkeologis yang mendalam untuk memahami lebih jauh tentang sejarah dan budaya yang melatarbelakangi pembangunan Borobudur.
Saat ini, Candi Borobudur tidak hanya menjadi salah satu daya tarik wisata utama di Indonesia, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya dan spiritualitas bangsa. Dengan arsitektur yang megah dan relief yang menceritakan kisah-kisah Buddha, Borobudur tetap menjadi tempat yang penting bagi umat Buddha dan pengunjung dari berbagai latar belakang, yang datang untuk merenungkan keindahan dan sejarah yang terkandung dalam setiap batu yang membentuk candi ini.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin