Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Menyelami Filosofi Gamelan Kyai Guntur Madu, Irama Sakral yang Menyatukan Jogja

Magang Radar Malioboro • Senin, 20 Oktober 2025 | 22:38 WIB
Gamelan Kyai Guntur Madu.
Gamelan Kyai Guntur Madu.

RADAR MALIOBORO - Setiap bulan Maulid tiba, Alun-Alun Utara Yogyakarta ramai bunyi gamelan yang lembut namun penuh makna.

Setiap tahun, gamelan ini menjadi pusat perhatian dalam upacara adat Sekaten.

Suaranya yang khas mampu mengingatkan lagi rasa kebersamaan warga Yogyakarta, baik dari orang tua hingga anak muda.

Gamelan Sekaten terdiri dari dua perangkat utama, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo.

Melansir sonobudoyo.jogjaprov.go.id kedua gamelan tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena merupakan warisan dari masa Kerajaan Mataram pada abad ke-17.

Menurut cerita, Guntur Madu adalah gamelan asli dari Mataram, sedangkan Nogo Wilogo dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai pendamping setelah perjanjian Giyanti membagi wilayah Yogyakarta dan Surakarta.

Sebelum upacara Sekaten dimulai, kedua gamelan ini melewati prosesi sakral yang disebut Jamasan, yaitu prosesi pembersihan dan penyucian alat music.

Lalu, prosesi Miyos Gongso, di mana gamelan diarak dari Keraton menuju Pagungan Masjid Gedhe Kauman.


Dalam upacara Sekaten, Kyai Guntur Madu ditempatkan di Pagungan Kidul (selatan), sedangkan Kyai Nogo Wilogo ditempatkan di Pagungan Lor (utara).

Penempatan ini bukan sekedar tata letak belaka, namun juga mengandung makna filosofis yang menggambarkan keseimbangan antara generasi tua dan muda serta keselarasan antara utara dan selatan sebagai simbol kesatuan hidup. (Nauralya Dhiya Isshafa)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#alun-alun utara yogyakarta #Gamelan Kyai Guntur Madu #Gamelan Sekaten #Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilog #sakral #jogja #filosofi