Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kereta Pusaka Bergerak Lagi: Simbol Sakral Penghantar Raja Surakarta Menuju Keabadian

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 4 November 2025 | 16:30 WIB

Kereta jenazah berusia lebih dari 100 tahun peninggalan Pakubuwono VII. (Sumber: Jawapos)
Kereta jenazah berusia lebih dari 100 tahun peninggalan Pakubuwono VII. (Sumber: Jawapos)


RADAR MALIOBORO – Keraton Surakarta kembali membuka lembaran sejarahnya. Sebuah kereta pusaka yang berusia lebih dari satu abad, yang hanya dipergunakan dalam prosesi pemakaman raja, kini kembali berderak pelan untuk menghantarkan jenazah Kanjeng Sinuhun Pakubuwono XIII menuju peristirahatan terakhirnya di Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul, Yogyakarta. 

Baca Juga: Rekomendasi Film Komedi Romantis yang Wajib Ditonton Saat Santai

Kereta berwarna putih dengan ornament mahkota di puncaknya bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol perjalanan spiritual seoramg raja Jawa dari dunia fana menuju alam keabadian. Terbuat dari kayu jati tua, kareta ini pertama kali digunakan pada masa pemerintahan Pakubuwono VII dan telah menjadi saksi bisu pengabdian para raja Mataram. 

Baca Juga: Lagi, Binaan Astra Honda Melesat Kencang di Barcelona Ciptakan Sejarah Untuk Indonesia.

“Kereta Jenazah ini memang khusus digunakan untuk mengangkat jenazah dari ndalem kertaon ke luar,” ujar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, adik almarhum PB XIII. Ia menambahkan bahwa prosesi kali ini akan mengikuti tata cara adat yang telah dijalankan turun-temurun, termasuk brobosan, ritual sakral yang menandai keluarnya jenazah raja dari lingkungan keraton. 

Baca Juga: UMKM dan Perajin Batik Yogyakarta Ramaikan Grand Launching HERITAVERSE di Surabaya

Kereta akan ditarik oleh enam hingga delapam ekor kuda pilihan, diiringi pasukan prajurit, sentono dalem, pengawal, dan kerabat. Sepanjang jalur prosesi, masyarakat biasanya berdiri ditepi jalan, menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan terakhir. 

Baca Juga: Bisa Dijadikan Sebagai Ide Lauk di Rumah, Yuk Intip Resep Dari Masakan Udang Saus Padang Yang Dijamin Enak!

Prosesi dimulai dari Masjid Keraton, tempat jenazah disirim dan disalatkan, lalu dibawa Paragiyo di belakang Sasana Wilopo sebelum diberangkatkan ke Imogiri. “Destinasinya saja yang berbeda, kereta setiap raja punya masjid dan pendopo sendiri. Tapi adatnya tetap sama,” jelas KGPH Puger.

Baca Juga: Adinda Thomas Ingin Buktikan Kualitas Akting Tanpa Peran Hantu, Ungkap Lokasi Syuting Paling Berkesan di Sosok Ketiga: Lintrik

Bagi keluarga keraton dan masyarakat, setiap kali kereta ini bergerak, bukan hanya jenazah yang berpindah tempat, melainkan juga sebagai penanda babak baru dalam sejarah Kasunanan Surakarta yang sedang ditulis. Warna putih melambangkan kesucian, sementara ukuran mahkota menjadi penanda keagungan seorang raja yang telah menuntaskan tugasnya di dunia. 

Baca Juga: Danamon Catatkan Pertumbuhan Laba Bersih 21 Persen Sepanjang Sembilan Bulan Pertama 2025

Pemakaman dijadwalkan berlangsung dua hingga tiga hari setelah wafat, menunggu kehadiran pejabat negara yang akan melayat. Di tengah duka, prosesi ini menjadi pengingat tradisi dan spiritual Jawa tetap hidup, bahkan dalam keheningan perpisahan. 

(Hanifah Okta)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Paku Buwono XIII Mangkat #kereta pusaka keraton solo #Paku Buwono XIII #Paku Buwono XIII Wafat