RADAR MALIOBORO – Suasana duka menyelimuti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Pakubuwono XII, pemimpin spiritual dan budaya Jawa, telah wafat. Kepergian menandai akhir dari satu babak panjang dalam sejarah keraton yang telah berdiri selama lebih dari dua abad.
Baca Juga: Kereta Pusaka Bergerak Lagi: Simbol Sakral Penghantar Raja Surakarta Menuju Keabadian
Pakubuwono XIII dikenal sebagai figur pemersatu di tengah dinamika internal keraton. Sejak dinobatkan pada awal 2004, beliau menjalanlan peran sebagai penjaga tradisi, pelestari budaya, sekaligus tokoh yang berusaha menjembatani nilai-nilai adat dengan tantangan zaman modern.
Baca Juga: Rekomendasi Film Komedi Romantis yang Wajib Ditonton Saat Santai
Sejak penobatannya, PB XIII aktif dalam pelestarian kebudayaan Jawa. Ia menjabat sebagai Pangageng Museum Keraton Surakarta dan menerima penghargaan Bintang Sri Kabadya I atas jasanya saat membantu mengatasi kebakaran keraton pada tahun 1985.
Baca Juga: Lagi, Binaan Astra Honda Melesat Kencang di Barcelona Ciptakan Sejarah Untuk Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai prosesi adat dan tradisi keraton tetap terjaga, ia aktif dalam pelestarian budaya Jawa, termasuk mendukung kegiatan seni, sastra, dan pendidikan berbasis nilai-nilai keraton. Di bawah kepemimpinannya juga, berbagai upacara adat seperti Labuhan, Garebeg, Sekaten, dan Kirab Malam 1 Sura rutin dilaksanakan. Meskipun tidak selalu tampil di panggung politik atau publik, peran beliau sebagai simbol kebudayaan tetap kuat di mata masyarakat Surakarta dan sekitarnya.
Baca Juga: UMKM dan Perajin Batik Yogyakarta Ramaikan Grand Launching HERITAVERSE di Surabaya
Jenazah Sinuhun PB XIII akan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul, Yogyakarta, mengikuti tradisi turun-temurun para raja Mataram. Proses pemakaman akan melibatkan kereta pusaka berusia lebih dari 100 tahun, ditarik oleh kuda pilihan dan diiringi prajurit serta keluarga keraton. Kereta putih berhias mahkota itu bukan sekadar kendaraan, melinkan simbol perjalanan suci seorang raja menuju keabadian.
Baca Juga: Bisa Dijadikan Sebagai Ide Lauk di Rumah, Yuk Intip Resep Dari Masakan Udang Saus Padang Yang Dijamin Enak!
Kepergian beliau bukan hanya kehilangan bagi keluarga keraton, tetapi juga bagi masyarakat yang menunjung tinggi warisan budaya Jawa. Dalam diam dan keteguhannya, Pakubuwono XIII telah menorehkan jejak kepemimpinan yang akan dikenang sebagai bagian dari sejarah panjang Kasunanan Surakarta.
Baca Juga: Adinda Thomas Ingin Buktikan Kualitas Akting Tanpa Peran Hantu, Ungkap Lokasi Syuting Paling Berkesan di Sosok Ketiga: Lintrik
Keraton kini bersiap melanjutkan tradisi, namun bayang-bayang sosok Sinuhun PB XIII akan tetap hidup dalam setiap langkah adat yang dijalankan. Sebuah era telah berakhir, dan Surakarta berduka.
(Hanifah Okta)