RADAR MALIOBORO - Perbedaan praktik ibadah antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah kerap menjadi sorotan publik, terutama saat Ramadan dan Idulfitri.
Meski sering diperdebatkan, perbedaan ini sejatinya lahir dari metode pemahaman agama yang berbeda, bukan dari perbedaan akidah.
Secara umum, NU banyak merujuk pada mazhab Syafi’i yang menekankan pelestarian ilmu fiqih dari ulama klasik.
Sementara itu, Muhammadiyah lebih menekankan langsung pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan rasional dan kontekstual.
Perbedaan rujukan inilah yang kemudian memengaruhi praktik ibadah sehari-hari.
1. Qunut Subuh
NU menganjurkan membaca qunut pada salat Subuh sebagai penyempurna Shalat, sementara Muhammadiyah tidak menggunakannya sama sekali.
2. Jumlah Rakaat Tarawih
NU umumnya melaksanakan Tarawih 20 rakaat, sedangkan Muhammadiyah 8 rakaat.
3. Dzikir dan Doa Setelah Salat
Dalam tradisi NU, dzikir dan doa sering dibaca dengan suara keras, sementara Muhammadiyah melakukannya secara pelan dan personal.
4. Praktik Ibadah Kolektif
NU mengenal tradisi tahlilan, yasinan, dan selamatan sebagai bagian dari ekspresi ibadah sosial, sedangkan Muhammadiyah tidak menjadikannya sebagai amalan keagamaan, karena tidak ditemukan contoh eksplisit dari Rasulullah.
5. Penentuan Awal Bulan Hijriah (biasanya untuk Ramadhan dan Idul Fitri)
NU mengutamakan pengamatan langsung terhadap bulan sabit muda dengan alat bantu optik atau yang disebut rukyatul hilal, namun tetap mempertimbangkan perhitungan ilmiah. Sementara Muhammadiyah secara penuh menggunakan perhitungan ilmiah atau yang juga disebut metode hisab.
Meski berbeda dalam praktik, NU dan Muhammadiyah memiliki persamaan mendasar, yaitu sama-sama berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah serta bertujuan membentuk umat yang taat dan berakhlak.
Perbedaan ini justru memperkaya wajah Islam Indonesia, menunjukkan bahwa keberagaman dapat berjalan seiring dengan persatuan.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin