RADAR MALIOBORO - Rempah-rempah khas Nusantara telah menjadi barang rebutan dunia.
Mulai dari Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa saling menukar barangnya di sebuah jalur strategis yang dikenal dengan “Jalur Rempah”.
Jalur Rempah tidak hanya sebagai sarana pertukaran barang, melainkan juga tercatat sebagai sarana pertukaran dan pemahaman budaya dunia.
Definisi rempah-rempah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan jenis tanaman yang beraroma khas dan digunakan untuk memberikan bau ataupun rasa khusus pada makanan.
Perjalanan rempah-rempah dimulai sekitar 3000 tahun Sebelum Masehi (SM).
Masa itu, penduduk Eropa pertama kali terpesona dengan aroma dan rasa unik dari tanaman rempah-rempah.
Herodotus, sejarawan Yunani Kuno, mencatat tentang rasa keingintahuan orang Barat akan asal-usul rempah-rempah.
Namun, rahasia ini dijaga ketat oleh pedagang Arab yang saat itu menjadi perantara penjualan rempah-rempah.
Di zaman Romawi dan Yunani Kuno, rempah-rempah dihargai setara dengan emas dan permata.
Rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan lada menjadi barang mewah bagi penduduk Eropa dan sekitarnya.
Bangsa Arab kala itu menjadi penguasa tiga jalur perdagangan rempah-rempah utama.
Pertama, jalur laut yang menghubungkan Nusantara ke China.
Kedua, jalur dari Nusantara menuju ke India, dan ketiga jalur Semenanjung Malaya yang menghubungkan Arab dan Eropa.
Kala itu, rempah-rempah menjadi barang yang amat bernilai dan misterius, asal-usulnya pun turut dijaga ketat.
Bahkan dikaitkan dengan sebuah cerita misterius, yaitu cerita tentang sarang burung yang membawa kayu manis dari tempat yang tidak diketahui.
Selama berabad-abad bangsa Eropa mencari asal-usul rempah-rempah.
Dimulai pada abad ke-13 oleh Marcopolo dengan melakukan perjalanan ke Timur melalui darat hingga ke China dan kembali lagi ke Italia melalui jalur darat maupun laut.
Kemudian mulai terkuaklah nama Nusantara sebagai wilayah penghasil rempah-rempah.
Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda pun langsung bergegas untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, memonopoli, hingga menjajah Indonesia selama berabad-abad.
Dari data Negeri Rempah Foundation, terdapat sekitar 400-500 spesies rempah yang tersebar di dunia, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara, dan Indonesia menjadi mayoritas asalnya.
Oleh karena itu, kemudian Indonesia dijuluki sebagai ibu rempah-rempah.
Meskipun zaman telah berubah, rempah-rempah tetap menjadi komoditas ekspor utama perdagangan Indonesia.
Tentu hal ini memberikan manfaat besar bagi ekonomi global.
Mulai lada, pala, hingga kayu manis, Indonesia terus mengukir sejarah sebagai salah satu penghasil rempah-rempah utama dunia. (Ahmad Yinfa Cendikia)
Editor : Meitika Candra Lantiva