RADAR MALIOBORO — Kutek atau nail polish kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia kecantikan modern. Namun, tak banyak yang tahu bahwa sejarah cat kuku ternyata berakar jauh di masa lalu. Fakta sejarah mencatat, penggunaan kutek pertama kali berkembang di Tiongkok kuno sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi.
Di masa tersebut, pewarna kuku bukan sekadar aksesori kecantikan, melainkan simbol status sosial. Masyarakat kelas atas di Tiongkok menggunakan campuran bahan alami seperti lilin lebah, putih telur, gelatin, getah arab, dan pewarna dari tumbuhan untuk menghias kuku mereka. Warna-warna mencolok seperti merah, emas, dan perak hanya boleh dikenakan oleh bangsawan dan keluarga kerajaan. Sementara itu, rakyat biasa dibatasi menggunakan warna pucat sebagai penanda kelas sosial.
Tradisi ini terus berkembang hingga masa Dinasti Zhou dan Dinasti Ming. Pada periode tersebut, kuku panjang dan berwarna menjadi simbol kemewahan karena menandakan pemiliknya tidak melakukan pekerjaan kasar. Beberapa bangsawan bahkan menghiasi kuku dengan permata atau pelindung kuku khusus sebagai bentuk prestise.
Penggunaan pewarna kuku juga ditemukan di peradaban lain seperti Mesir Kuno dan India, namun Tiongkok tercatat sebagai salah satu pelopor awal dalam pengembangan formula cat kuku. Berbeda dengan kutek modern yang berbasis bahan kimia, pewarna kuku kuno sepenuhnya dibuat dari bahan alami.
Seiring perkembangan zaman, kutek berevolusi menjadi produk kecantikan massal dengan beragam warna, tekstur, dan teknik seperti nail art. Meski tampil modern, sejarah panjang kutek membuktikan bahwa tradisi mempercantik kuku telah menjadi bagian dari budaya manusia sejak ribuan tahun lalu.
(Alena Mutiara)
Editor : Iwa Ikhwanudin