Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Putri Mangkunegaran yang Menolak Cinta Soekarno hingga Sultan HB IX, Pilih Hidup Sederhana di Bandung

Editor Content • Selasa, 17 Februari 2026 | 14:01 WIB
Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, atau lebih dikenal sebagai Gusti Nurul.
Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, atau lebih dikenal sebagai Gusti Nurul.

RADAR MALIOBORO – Kisah inspiratif seorang putri bangsawan dari Pura Mangkunegaran, Solo, kembali viral di media sosial. 

Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, atau lebih dikenal sebagai Gusti Nurul, dikenal sebagai wanita cantik, cerdas, dan berprinsip teguh menolak poligami seumur hidupnya.

Lahir di Surakarta pada 17 September 1921, Gusti Nurul merupakan putri tunggal Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara VII dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer (putri Sultan Hamengku Buwono VII). 

Sejak muda, ia terkenal sebagai primadona karena paras elok dan kemahiran menari klasik Jawa. 

Pada usia 15 tahun, ia bahkan tampil menari di Belanda sebagai kado pernikahan Putri Juliana, dengan iringan gamelan dari Solo yang disiarkan via radio.

Meski tumbuh di lingkungan istana yang mewah, Gusti Nurul memiliki prinsip kuat: seorang perempuan berpendidikan tinggi tidak boleh menyakiti hati perempuan lain melalui poligami. 

Prinsip ini membuatnya menolak sejumlah lamaran dari tokoh-tokoh besar Indonesia, termasuk:

Presiden pertama RI, Ir. Soekarno; Mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir; Kolonel GPH Djatikusumo (mantan KSAD pertama); dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, meski dijanjikan posisi tinggi, ditolak karena sang Sultan saat itu telah beristri. 

Penolakan terhadap HB IX menjadi sorotan karena menunjukkan sikap tegasnya menghormati perempuan lain, sesuai nilai yang dipegang teguh dari ajaran ibunya.

Pada usia sekitar 30 tahun—yang pada masa itu tergolong telat menikah—Gusti Nurul akhirnya memilih Raden Mas Surjosularso (atau RM Soerjosoerarso), seorang kolonel kavaleri Angkatan Darat yang masih kerabat jauhnya. 

Pilihan ini mencerminkan keinginannya hidup sederhana tanpa embel-embel status bangsawan.

Setelah menikah pada 1951, ia meninggalkan gelar kebangsawanan, kemewahan istana, dan ikut suaminya bertugas di Bandung. 

Ia menjalani kehidupan biasa sebagai istri tentara hingga tutup usia di Rumah Sakit St Borromeus (atau Santo Carolus) Bandung pada 10 November 2015, di usia 94 tahun. 

Ia meninggalkan tujuh anak, 14 cucu, dan seorang cicit.

Kisah Gusti Nurul kini banyak dibagikan di X (Twitter), termasuk utas dari akun @KakekHalal yang mendapat ribuan like dan ratusan repost. 

Sosoknya juga diabadikan di Museum Ullen Sentalu, Sleman, Yogyakarta, dengan ruangan khusus “Ruang Putri Dambaan” yang berisi memorabilia pribadinya sejak kecil hingga senja.

Gusti Nurul bukan hanya simbol kecantikan Jawa klasik, tapi juga teladan perempuan berpendidikan yang berani memilih prinsip di atas status dan kemewahan. 

Kisahnya terus menginspirasi generasi muda tentang nilai kesetaraan, penghormatan terhadap sesama perempuan, dan keberanian menentukan jalan hidup sendiri. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#putri bangsawan #Jejak Sejarah Putri Mangkunegaran #Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani #museum ullen sentalu #Jejak Sejarah Putri Mangkunegaran di Jogja #Gusti nurul #Kisah Cinta Tokoh Keraton #Kisah Cinta gusti Nurul #kisah inspiratif #Pura Mangkunegaran