WONOSOBO – Festival Balon Udara Wonosobo bukan sekadar event tahunan yang memenuhi langit dengan warna-warni balon raksasa setiap Lebaran.
Acara ini memiliki akar sejarah panjang yang sudah berlangsung hampir satu abad, berawal dari inspirasi sederhana seorang warga lokal hingga berkembang menjadi festival budaya berskala nasional dan internasional.
Awal Mula: Inspirasi Atmo Goper di Era 1920-an
Tradisi balon udara tradisional di Wonosobo bermula sekitar pertengahan dekade 1920-an (masih pada masa penjajahan Belanda).
Tokoh kunci di baliknya adalah Atmo Goper (1898–1978), seorang tukang cukur rambut, pengrajin sangkar burung dan lampion, serta seniman rebana asal Krakal Tamanan, Karangluhu, Kecamatan Kertek, Wonosobo.
Atmo Goper terinspirasi setelah menyaksikan pendaratan balon udara berpenumpang di Alun-alun Wonosobo.
Balon tersebut digunakan untuk keperluan pemotretan udara (aerial photography) oleh pihak Belanda.
Pengalaman masa kecil itu membekas dalam ingatannya.
Dengan keahliannya merajut lampion dan kertas, Atmo mulai bereksperimen membuat balon udara sederhana menggunakan bahan mewah saat itu seperti kertas pilus dan kertas payung yang didatangkan dari Semarang.
Balon pertamanya diterbangkan di halaman mushola kampungnya dan langsung menarik perhatian warga sekitar.
Sejak saat itu, tradisi menerbangkan balon udara tanpa awak (unmanned hot air balloon) menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri di berbagai desa Wonosobo.
Balon-balon ini biasanya diterbangkan secara tambat (tethered) menggunakan tali agar aman dan tidak mengganggu penerbangan pesawat.
Baca Juga: Parlemen Iran Tolak Tuntutan Nuklir Trump Jelang Pembicaraan Geneva, Ancam Balas Pangkalan AS
Perkembangan Menjadi Tradisi Lebaran dan Festival Modern
Sepanjang 1930-an hingga era kemerdekaan, tradisi ini terus dilestarikan secara turun-temurun oleh masyarakat Wonosobo, khususnya di kecamatan seperti Kertek, Kalikajar, dan sekitar Dataran Tinggi Dieng.
Balon udara menjadi simbol kegembiraan Lebaran, sekaligus ajang kreativitas warga dalam mendesain bentuk dan motif unik—mulai dari bentuk hewan, wayang, hingga simbol lokal.
Pada awal 2000-an, pemerintah daerah mulai mengemas tradisi ini menjadi event wisata yang lebih terorganisir:
Tahun 2005: Digelar Festival Balon Tradisional berskala besar pertama kali di Alun-alun Wonosobo, menandai transisi dari tradisi kampung menjadi agenda pariwisata kabupaten.
Sejak 2018-an: Festival semakin masif dengan partisipasi puluhan desa, ribuan pengunjung, dan elemen tambahan seperti bazaar UMKM, pentas seni, lomba fotografi, serta undangan peserta balon udara internasional.
Pada 2025, festival bahkan merayakan 2 abad keberadaan tradisi balon udara di Wonosobo (dihitung sejak awal 1920-an), menegaskan statusnya sebagai warisan budaya yang hidup.
Makna dan Daya Tarik Saat IniFestival Balon Udara Wonosobo kini bukan hanya tentang balon yang beterbangan di pagi hari (biasanya 05.30–08.00 WIB) saat angin tenang dan matahari terbit dramatis di dataran tinggi.
Acara ini juga merefleksikan:
Kreativitas dan gotong royong masyarakat desa.
Pelestarian budaya Jawa di tengah modernisasi.
Dorongan ekonomi lokal melalui pariwisata mudik Lebaran.
Dengan jadwal yang kini tersebar di 20+ desa selama seminggu penuh (seperti Festival Mudik Wonosobo), event ini telah menjadi salah satu destinasi unggulan Jawa Tengah, bahkan disebut sebagai “Cappadocia-nya Indonesia” versi tradisional.
Tradisi yang dimulai dari seorang tukang cukur biasa kini telah membumbung tinggi, menghiasi langit Wonosobo setiap Syawal, dan terus menginspirasi generasi muda untuk melestarikannya. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin