Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menghebohkan publik dunia dengan tudingan keras terhadap mantan Presiden Barack Obama. Trump menyebut Obama sengaja mengirim US$1,7 miliar (sekitar Rp27 triliun dengan kurs saat ini) dalam bentuk uang tunai menggunakan palet pesawat ke Iran, demi “membeli rasa hormat” yang justru berujung pada pendanaan terorisme dan program nuklir Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Trump di hadapan ribuan pendukungnya, seperti yang viral dalam klip video yang dibagikan akun @EricLDaugh di platform X (Twitter) pada 2 April 2026. Trump dengan tegas mengatakan:
“Hussein Obama gave them $1.7 billion in cash, green, green cash! Took it out of banks from Virginia, D.C., and Maryland. All the cash they had flew it by airplanes in an attempt to buy their respect and loyalty, but it didn’t work. They LAUGHED at our President and went on with their mission to have a nuclear bomb!”
Menurut Trump, kesepakatan nuklir JCPOA era Obama hampir saja membuat Iran memiliki arsenal nuklir raksasa bertahun-tahun lebih cepat. “It would have led to a colossal arsenal of massive nuclear weapons for Iran, and they would have had them years ago,” tegasnya.
Peristiwa tersebut terjadi pada Januari 2016, bertepatan dengan implementasi kesepakatan nuklir JCPOA dan pembebasan beberapa warga Amerika yang ditahan Iran. Uang tersebut merupakan penyelesaian sengketa arbitrase lama sejak era sebelum Revolusi Iran 1979.
Saat itu, Iran telah membayar miliaran dolar untuk pembelian senjata Amerika yang tidak pernah dikirim karena hubungan kedua negara putus. Obama administration menyelesaikannya dengan membayar US$400 juta pokok plus US$1,3 miliar bunga, seluruhnya dalam bentuk mata uang asing (euro dan franc Swiss) karena sanksi Amerika menghalangi transfer perbankan normal.
Uang diambil dari bank-bank di Virginia, Washington D.C., dan Maryland, lalu diangkut dengan pesawat kargo. Kritikus, termasuk Trump, menyebutnya sebagai “ransom” atau uang tebusan karena timing-nya berbarengan dengan pembebasan sandera.
Sementara pihak Obama menegaskan ini adalah kewajiban hukum terpisah dari kesepakatan nuklir, bukan pemberian gratis atau pendanaan teror.
Trump yang pernah mencabut JCPOA pada 2018 kembali menekankan bahwa kebijakan “lemah” Obama justru membuat Iran tertawa dan terus mengembangkan program nuklir serta mendukung kelompok-kelompok militan di Timur Tengah.
Video pidato Trump tersebut langsung viral dengan puluhan ribu like dan repost hanya dalam hitungan jam. Banyak pendukung Trump menyebut tindakan Obama sebagai “pengkhianatan” terhadap keamanan Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk Israel.
Di sisi lain, pendukung Obama membela bahwa uang itu adalah milik Iran sendiri yang “dikembalikan”, bukan pemberian baru, dan kesepakatan nuklir sempat membatasi program pengayaan uranium Iran.
Hingga kini, isu ini tetap menjadi bahan perdebatan sengit di politik Amerika, terutama saat ketegangan dengan Iran kembali memanas di kawasan Timur Tengah. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin