TEHERAN – Dua pesawat militer Amerika Serikat (AS) jatuh dalam insiden terpisah pada Jumat (3/4/2026) saat melakukan operasi tempur melawan Iran.
Jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iran, sementara pesawat serang A-10 Warthog (Thunderbolt II) juga terkena tembakan musuh di wilayah dekat Selat Hormuz.
Menurut laporan The Washington Post dan pejabat AS, satu awak dari F-15E telah berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus Amerika.
Namun, pencarian terhadap awak kedua masih berlangsung di wilayah Iran yang berbahaya.
Sementara itu, pilot tunggal A-10 berhasil menyelamatkan diri dengan eject dan selamat setelah pesawat jatuh.
Insiden ini menjadi yang pertama kali pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh tembakan musuh sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai hampir lima minggu lalu pada akhir Februari 2026.
Sebelumnya, militer AS sempat mengklaim bahwa sistem pertahanan udara Iran telah "sebagian besar hancur".
Namun, kejadian ini menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan pertahanan udara yang mematikan.
Kronologi Insiden
F-15E Strike Eagle:
Dua awak (pilot dan weapons system officer) dilaporkan eject setelah pesawat kena tembakan.
Satu awak sudah diselamatkan, sementara satu lagi masih hilang.
Puing-puing pesawat beredar di media sosial, dan Iran mengklaim keberhasilan pertahanan udaranya.
A-10 Warthog: Pesawat ini jatuh saat kemungkinan sedang membantu operasi pencarian dan penyelamatan (search and rescue) untuk awak F-15E.
Pilot berhasil eject dan selamat di wilayah yang relatif aman dekat Selat Hormuz.
Beberapa laporan menyebut ada helikopter pencarian yang juga terkena tembakan, tapi berhasil kembali ke pangkalan meski awaknya cedera.
Iran menyebut hari tersebut sebagai "hari hitam bagi Angkatan Udara AS".
Sementara itu, pihak AS terus melakukan operasi pencarian meski di tengah risiko tinggi di wilayah musuh.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan pertahanan udara Iran yang ternyata belum sepenuhnya lumpuh.
Konflik ini semakin memanaskan situasi Timur Tengah, dengan risiko eskalasi yang lebih luas.
Warga dunia, termasuk di Indonesia, terus memantau perkembangan karena dampaknya terhadap stabilitas global, harga minyak, dan keamanan internasional. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin