Washington – Presiden AS Donald Trump kembali menuai kontroversi internasional setelah mengunggah pesan bernada kasar di Truth Social pada hari Paskah, Minggu (5 April 2026). Trump mengancam akan menjadikan Selasa sebagai “Power Plant Day and Bridge Day” di Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia yang kini ditutup akibat konflik.
Dalam unggahan tersebut, Trump menulis: “Tuesday will be Power Plant Day, and Bridge Day, all wrapped up in one, in Iran. There will be nothing like it!!! Open the Fin’ Strait, you crazy b***s, or you’ll be living in Hell - JUST WATCH! Praise be to Allah.”
Unggahan penuh umpatan itu langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk anggota Kongres AS. Senator Chris Murphy (Demokrat-Connecticut) menyebut pernyataan Trump sebagai “completely, utterly unhinged” (sangat tidak terkendali). Murphy bahkan menyarankan anggota kabinet Trump untuk berkonsultasi dengan pengacara konstitusi soal kemungkinan penerapan Amandemen ke-25 Konstitusi AS.
Amandemen ke-25 memungkinkan Wakil Presiden dan mayoritas kabinet menyatakan presiden tidak mampu menjalankan tugasnya. Jika disetujui, kekuasaan akan beralih ke wakil presiden. Mekanisme ini belum pernah digunakan untuk menggulingkan seorang presiden secara penuh.
Menurut laporan Newsweek, probabilitas penerapan Amandemen ke-25 terhadap Trump di pasar prediksi melonjak dari 28,6% menjadi 35,1% dalam waktu singkat. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi perang dengan Iran dan penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada harga minyak global serta stabilitas ekonomi dunia.
Selat Hormuz merupakan chokepoint strategis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupannya oleh Iran sebagai respons konflik telah menyebabkan lonjakan harga energi dan kekhawatiran resesi global. Trump sebelumnya telah mengancam serangan terhadap infrastruktur Iran jika jalur tersebut tidak dibuka kembali.
Sementara itu, Senator Lindsey Graham (Republik) menyatakan Trump “deadly serious” dengan ultimatumnya dan mendukung respons militer tegas terhadap infrastruktur vital Iran.
Kritikus Trump, termasuk beberapa anggota Demokrat, menilai retorika presiden berbahaya dan berpotensi melanggar hukum internasional karena menargetkan infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Pendukung Trump membela bahwa pernyataan itu bagian dari strategi tekanan maksimal untuk melindungi kepentingan Amerika dan sekutu.
Beberapa pihak mengingatkan bahwa selama masa Presiden Biden pun ada spekulasi serupa tentang kesehatan mental, tapi tidak pernah diterapkan Amandemen ke-25.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari Wakil Presiden JD Vance atau anggota kabinet terkait kemungkinan Amandemen ke-25. Gedung Putih juga belum memberikan komentar atas unggahan Trump tersebut.
Konflik AS-Iran terus memanas, dan perkembangan Selat Hormuz menjadi sorotan utama pasar keuangan global. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin