Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengungkap alasan di balik keputusannya memerintahkan pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani pada 2020.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menyebut Soleimani sebagai "evil genius" (jenius jahat) yang sedang merencanakan serangan terhadap lima basis militer Amerika Serikat.
"I had killed Qasem Soleimani, who was an evil genius. And the reason I did it, I heard he was going to knock out five of our military bases," ujar Trump, seperti dikutip dari video yang dibagikan Fox News pada Senin (6/4/2026).
Menurut Trump, tindakan tegas tersebut mencegah situasi yang lebih buruk di Timur Tengah.
"Had he lived, I believe we would be fighting perhaps a different Iran right now because he's never been replaced," tambahnya.
Ia menekankan bahwa hingga kini tidak ada pengganti yang setara dengan Soleimani, komandan Pasukan Quds Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang dianggap sebagai arsitek utama operasi militer Iran di kawasan.
Pernyataan ini disampaikan Trump di tengah eskalasi konflik AS-Iran yang masih berlangsung.
Konferensi pers tersebut juga membahas operasi penyelamatan pilot Angkatan Udara AS yang ditembak jatuh di Iran, serta deadline ultimatum Trump terkait Selat Hormuz.
Pembunuhan Soleimani via drone di Bandara Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020, menjadi salah satu keputusan paling kontroversial di era kepresidenan Trump pertama.
Saat itu, AS beralasan tindakan itu sebagai self-defense karena Soleimani diduga merencanakan serangan terhadap personel dan diplomat Amerika.
Di sisi lain, Iran menyebut Soleimani sebagai pahlawan nasional yang memimpin perlawanan terhadap ISIS dan pengaruh Barat.
Hingga kini, nama Soleimani masih sering disebut dalam retorika politik Iran, dan warisannya diklaim terus hidup melalui milisi pro-Iran di berbagai negara.
Pernyataan terbaru Trump muncul saat ketegangan AS-Iran memasuki fase baru.
Beberapa pengamat menilai keputusan 2020 itu memang melemahkan struktur komando IRGC, meski Iran tetap mampu melanjutkan pengaruhnya melalui proxy di Yaman, Lebanon, Suriah, dan Irak.
Postingan Fox News tentang pernyataan Trump menuai ratusan respons di platform X (Twitter).
Beberapa pengguna mendukung langkah Trump dan berharap rezim Iran segera berubah.
Sementara itu, pihak yang pro-Iran menilai Soleimani tetap menjadi "momok" bagi AS bahkan setelah enam tahun meninggal.
Perkembangan konflik Timur Tengah ini patut diwaspadai karena berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin