Washington – Ketegangan konflik AS-Iran semakin memanas.
Pasukan Iran berhasil menembak jatuh pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat di wilayah Iran, memicu operasi penyelamatan berisiko tinggi yang melibatkan ratusan pesawat tempur AS.
Satu pilot berhasil diselamatkan, sementara Weapons Systems Officer (WSO) sempat hilang sebelum akhirnya dievakuasi.
Selama misi penyelamatan, helikopter AS mendapat tembakan senjata ringan massal dari warga dan pasukan Iran.
Jenderal Dan Caine, Chairman of the Joint Chiefs of Staff, mengungkapkan detail dramatis operasi tersebut dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Menurutnya, operasi penyelamatan ini “sangat berbahaya” dan melibatkan “armada udara” besar-besaran, termasuk A-10 Warthog, HC-130 Combat King II, HH-60 Jolly Green II, serta drone taktis yang memberikan dukungan tembakan jarak dekat.
“Helikopter penyelamat kami diserang oleh hampir setiap orang di Iran yang memegang senjata ringan,” ujar Jenderal Caine.
Salah satu helikopter sempat terkena tembakan, menyebabkan sejumlah awak mengalami luka ringan, namun berhasil mendarat dengan selamat.
Sementara operasi penyelamatan berlangsung, AS melancarkan serangan balasan mematikan.
Bomber siluman B-2 Spirit menjatuhkan munisi bunker-buster (Massive Ordnance Penetrator) ke markas bawah tanah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) di dekat Tehran.
Serangan ini menewaskan sejumlah komandan senior IRGC yang sedang berkumpul di fasilitas tersebut.
Serangan B-2 dilakukan atas perintah Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, dengan penerbangan pulang-pergi selama 36 jam dari Whiteman Air Force Base.
Targetnya adalah pusat komando IRGC yang diperkuat, menggunakan bom penembus bunker yang sama seperti yang pernah digunakan untuk menghancurkan situs nuklir Iran.
Insiden penembakan jet F-15E ini menjadi yang pertama kali terjadi selama Operation Epic Fury, operasi militer AS melawan Iran.
Kedua awak pesawat berhasil melontarkan diri (eject) dengan selamat, namun terisolasi di wilayah musuh.
Pilot (DUDE44 Alpha) dievakuasi lebih dulu, sementara WSO (DUDE44 Bravo) sempat bersembunyi di celah gunung selama hampir 48 jam sebelum diselamatkan.
Presiden Donald Trump murka atas kebocoran informasi mengenai keberadaan awak kedua yang masih hilang.
Seorang jurnalis Israel, Amit Segal dari N12 News, mengaku sebagai orang pertama yang melaporkan detail tersebut.
Trump mengancam akan memenjarakan jurnalis atau media yang membocorkan informasi sensitif karena dinilai membahayakan nyawa awak pesawat dan misi penyelamatan.
“Siapa pun yang membocorkan ini, kami akan cari. Berikan sumbernya atau masuk penjara,” tegas Trump.
Peristiwa ini semakin memperburuk hubungan AS-Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
AS menegaskan komitmennya untuk tidak meninggalkan prajurit di belakang garis musuh, sementara Iran mengklaim keberhasilan menembak jatuh pesawat musuh dan menyerang helikopter penyelamat. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin