KUALA LUMPUR – Kedutaan Besar Iran di Malaysia merilis infografis yang memuat 10 poin syarat fundamental yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik dan mencapai kesepakatan damai permanen.
Proposal ini muncul di tengah gencatan senjata sementara dua minggu yang disepakati kedua pihak, dengan Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan awal.
Menurut pernyataan Kedutaan Iran di Malaysia yang diunggah di platform X (Twitter), AS secara fundamental berkomitmen untuk memenuhi 10 syarat utama Iran.
Berikut rincian poin-poin tersebut berdasarkan infografis yang disebarkan:Jaminan non-agresi permanen dari AS terhadap Iran.
Pengakuan penuh atas hak Iran untuk pengayaan uranium secara damai.
Pencabutan total sanksi primer dan sekunder yang dikenakan AS.
Pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer AS dan Israel.
Penarikan pasukan AS dari kawasan Timur Tengah.
Penghentian perang dan serangan terhadap sekutu Iran, termasuk Hezbollah di Lebanon.
Pengakuan kontrol Iran atas Selat Hormuz dengan pengaturan transit yang dikoordinasikan angkatan bersenjata Iran.
Penghentian semua resolusi Dewan Keamanan PBB dan IAEA yang merugikan Iran.
Pengakuan atas peran Iran dalam stabilitas keamanan regional.
Kerja sama ekonomi dan perdagangan tanpa campur tangan politik AS.
Infografis ini disebarkan di tengah eskalasi konflik yang sempat memanas, di mana Presiden AS Donald Trump sempat mengancam serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka.
Namun, Trump kemudian menyatakan proposal 10 poin Iran sebagai "workable basis" untuk negosiasi, meski menyebutnya "belum cukup baik".
Trump akhirnya menyetujui penundaan serangan selama dua minggu dengan syarat Iran segera membuka kembali selat vital tersebut, yang menjadi jalur pengiriman minyak dunia.
Kedutaan Iran menekankan bahwa gencatan senjata ini bukan akhir, melainkan langkah awal menuju perdamaian abadi.
Sementara itu, pejabat Iran seperti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan kesediaan membuka Selat Hormuz selama dua minggu jika serangan terhadap Iran dihentikan sepenuhnya.
Konflik ini bermula dari ketegangan nuklir dan serangan balasan yang melibatkan AS, Israel, serta kelompok-kelompok pro-Iran di kawasan.
Selat Hormuz, yang menjadi arteri utama pasokan energi global, sempat diblokade de facto oleh Iran sebagai bentuk tekanan.
Analis geopolitik menilai proposal Iran ini menunjukkan posisi tawar yang lebih kuat pasca-eskalasi, meski banyak pihak meragukan komitmen jangka panjang AS mengingat sejarah ketidakpercayaan kedua negara.
Pakistan berperan sebagai mediator penting dalam proses ini.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, mengingat dampak potensial terhadap harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global yang juga dirasakan Indonesia. (iwa)
(Sumber: Infografis Kedutaan Iran di Malaysia via X, pernyataan Presiden Trump, Reuters, NYT, dan Al Jazeera. Foto infografis dapat dilihat pada unggahan resmi @iraninmalaysia).
Editor : Iwa Ikhwanudin