Yogyakarta – United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) merilis temuan awal terkait dua insiden tragis di Lebanon selatan pada akhir Maret 2026 yang menewaskan tiga prajurit perdamaian asal Indonesia.
Satu prajurit tewas akibat tembakan peluru tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF), sementara dua lainnya menjadi korban ledakan improvised explosive device (IED) yang kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.
Menurut pernyataan resmi UN Peacekeeping yang dirilis Selasa (7 April 2026), insiden pertama terjadi pada 29 Maret 2026.
Sebuah proyektil menghantam posisi UNIFIL di Ett Taibe.
Analisis lokasi dampak dan fragmen proyektil menunjukkan bahwa itu adalah peluru artileri utama 120 mm yang ditembakkan dari tank Merkava IDF dari arah timur.
Korban tewas dalam insiden ini adalah Kopral (Kopda) Farizal Rhomadhon.
Keesokan harinya, 30 Maret 2026, dua prajurit Indonesia lainnya tewas ketika ledakan menghancurkan kendaraan konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan.
Temuan awal UNIFIL menyimpulkan bahwa ledakan disebabkan oleh IED jenis tripwire (aktivasi korban).
Berdasarkan lokasi kejadian, karakter ledakan, serta konteks keamanan di wilayah tersebut, UNIFIL menilai IED tersebut paling mungkin dipasang oleh Hizbullah.
Baca Juga: Gandeng SMK Muhammadiyah Sampang Cilacap, Astra Motor Yogyakarta Tanamkan Budaya #Cari_Aman
Dua prajurit lain mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Ketiga prajurit yang gugur adalah:
Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar (33 tahun)
Sersan (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan (26 tahun)
Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon (28 tahun)
UNIFIL menegaskan bahwa pasukan perdamaian (Blue Helmets) bukanlah target dan mengecam keras serangan terhadap mereka.
Temuan preliminer ini telah disampaikan kepada pemerintah Indonesia, Israel, dan Lebanon.
Investigasi penuh masih terus dilakukan.
Baca Juga: Kematian Akibat TBC Capai 125 Ribu Setahun, Waspada Gejala Batuk Lebih dari 2 Minggu
Indonesia sendiri telah menerima jenazah ketiga pahlawan perdamaian tersebut pada awal April 2026.
Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat tinggi memberikan penghormatan terakhir.
Pemerintah Indonesia menuntut investigasi menyeluruh dan jaminan keamanan yang lebih baik bagi pasukan perdamaian TNI di bawah bendera PBB.
Konflik yang berlangsung di perbatasan Lebanon-Israel telah meningkatkan risiko bagi pasukan UNIFIL yang bertugas menjaga perdamaian di sepanjang Blue Line.
UN Peacekeeping berulang kali menekankan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian adalah pelanggaran serius terhadap mandat Dewan Keamanan PBB.
Berita ini menjadi pengingat penting akan pengorbanan prajurit Indonesia yang menjaga perdamaian dunia di tengah zona konflik.
Semoga investigasi lanjutan dapat membawa keadilan dan mencegah terulangnya tragedi serupa. (iwa)
(Sumber: Pernyataan resmi UN Peacekeeping/@UNPeacekeeping dan UNIFIL, 7 April 2026)
Editor : Iwa Ikhwanudin