WASHINGTON – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memuncak. Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman keras melalui Truth Social bahwa Selasa (8 April 2026) akan menjadi "Power Plant Day and Bridge Day" di Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali paling lambat pukul 20.00 waktu Timur AS (Selasa malam WIB).
Dalam unggahan berbahasa kasar, Trump menulis: “Tuesday will be Power Plant Day, and Bridge Day, all wrapped up in one, in Iran. There will be nothing like it!!! Open the Fuckin’ Strait, you crazy bastards, or you’ll be living in Hell – JUST WATCH!”
Ia menandatangani postingan tersebut dengan “Praise be to Allah. President DONALD J. TRUMP”.
Selat Hormuz yang ditutup Iran sejak akhir Februari 2026 merupakan jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia.
Penutupan ini telah memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran krisis energi internasional.
Ancaman Trump langsung menuai kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk presenter konservatif Tucker Carlson dan pembawa acara MSNBC Lawrence O’Donnell.
Mereka menilai pernyataan presiden tersebut berlebihan dan berisiko memicu eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, Iran tidak tinggal diam.
Pemerintah Teheran mengajak warga muda membentuk rantai manusia (human chains) untuk melindungi instalasi pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya.
Iran juga bersumpah akan melakukan balasan dahsyat jika AS dan Israel melanjutkan serangan.
Serangan udara AS dan Israel terus berlanjut, termasuk satu serangan yang merusak sebuah sinagoga di Teheran.
Di tengah situasi memanas, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyerukan perpanjangan gencatan senjata untuk mencegah korban sipil semakin bertambah.
Harga minyak dunia langsung meroket menyusul ancaman Trump, menambah kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi.
Banyak analis memperingatkan bahwa serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan Iran bisa dianggap sebagai serangan terhadap infrastruktur sipil, yang berpotensi melanggar hukum perang internasional. (iwa)
(Sumber: Truth Social Presiden Trump, laporan BBC, Reuters, Al Jazeera)
Editor : Iwa Ikhwanudin