TEHERAN – Dalam operasi penyelamatan paling dramatis selama konflik AS-Iran, teknologi canggih bernama Ghost Murmur buatan Lockheed Martin berhasil menemukan dan menyelamatkan seorang perwira senjata (weapons systems officer) F15E Strike Eagle yang terluka dan bersembunyi di pegunungan selatan Iran.
Pesawat tempur F-15E Strike Eagle dengan callsign Dude 44 ditembak jatuh oleh rudal bahu (MANPADS) pasukan Iran pada 3 April 2026.
Pilot berhasil dievakuasi dengan cepat, namun perwira senjata yang terluka parah harus bersembunyi sendirian selama hampir dua hari di medan pegunungan yang terjal sambil menghindari kejaran pasukan Iran.
Direktur CIA John Ratcliffe mengungkapkan bahwa sistem Ghost Murmur menggunakan sensor quantum magnetometry berbasis cacat mikroskopis pada berlian sintetis.
Teknologi ini mampu mendeteksi sidik jari elektromagnetik detak jantung manusia dari jarak hingga 40 mil (sekitar 64 km), bahkan di tengah medan sulit dan tanpa sinyal konvensional.
Berkat deteksi akurat dari Ghost Murmur, SEAL Team 6 melancarkan operasi ekstraksi berani.
Meski mengalami kendala medan yang menyebabkan dua pesawat penyelamat terjebak, operasi berhasil tanpa korban jiwa di pihak AS.
Perwira tersebut kini sedang menjalani pemulihan di Amerika Serikat dan disebut sebagai “keajaiban medis”.
Presiden Donald Trump memuji operasi ini sebagai salah satu penyelamatan terhebat dalam sejarah militer AS.
“Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. CIA melakukan pekerjaan luar biasa,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa penyelamatan ini menunjukkan keunggulan teknologi militer Amerika yang tak tertandingi.
Sementara itu, klaim Iran bahwa mereka berhasil mencuri uranium dari pesawat jatuh tersebut langsung dibantah dan dinilai gagal total oleh pihak AS.
Teknologi ini merupakan penggunaan pertama di lapangan oleh CIA.
Ia menggabungkan quantum magnetometry dengan kecerdasan buatan (AI) untuk menyaring noise latar belakang dan mengisolasi sinyal detak jantung dengan presisi tinggi.
Pengembangan dilakukan oleh divisi rahasia Skunk Works milik Lockheed Martin.
Operasi ini menjadi sorotan dunia karena menunjukkan betapa canggihnya kemampuan intelijen dan pasukan khusus AS di tengah ketegangan tinggi dengan Iran.
Meski demikian, insiden penembakan jatuhnya F-15E diakui sebagai pukulan signifikan bagi citra supremasi udara AS di wilayah tersebut.
Konflik AS-Iran yang terus berlanjut berpotensi memengaruhi stabilitas harga minyak dunia, termasuk melalui jalur Selat Hormuz.
Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak, setiap eskalasi bisa berdampak pada inflasi dan harga BBM dalam negeri.
Baca Juga: DK PBB Gagal Sahkan Resolusi Selat Hormuz yang Didukung Bahrain: China dan Rusia Gunakan Hak Veto
Pemerintah diharapkan terus memantau situasi ini.Berita ini terus berkembang. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin