GAZA – Dunia internasional kembali digegerkan oleh serangan drone Israel yang menewaskan seorang jurnalis Al Jazeera di Gaza.
Mohammed Wishah, koresponden Al Jazeera Mubasher, tewas ketika mobil sedan putihnya diserang drone Israel di Jalan al-Rashid, kawasan Sheikh Ajlin, barat Gaza City, pada Rabu (8 April 2026).
Kendaraan yang ditumpangi Wishah langsung terbakar hebat setelah terkena serangan.
Warga sekitar berkerumun di lokasi kejadian di tengah puing-puing mobil yang hancur.
Serangan ini juga menewaskan satu orang lainnya yang berada di dalam mobil yang sama.
Al Jazeera langsung mengutuk keras insiden tersebut sebagai “kejahatan keji” dan “penargetan sengaja”.
Jaringan media Qatar itu menyatakan Wishah telah bergabung sejak 2018 dan aktif meliput perang Gaza sejak Oktober 2023.
Mereka menegaskan bahwa pembunuhan ini bukan insiden acak, melainkan upaya untuk mengintimidasi jurnalis yang sedang menjalankan tugas.
Otoritas Gaza menyebut kematian Wishah sebagai korban jurnalis Palestina ke-262 sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023.
Baca Juga: Episode Serial Film Kartun SpongeBob yang Menuai Kritik, Hingga Dilarang Tayang!
Jumlah ini menunjukkan tingginya risiko yang dihadapi awak media di wilayah konflik tersebut.
Sementara itu, pihak Israel mengklaim Wishah memiliki kaitan dengan Hamas di masa lalu dan telah membagikan bukti lama yang menunjukkan dirinya memegang senjata.
Klaim ini langsung dibantah oleh Al Jazeera, yang menekankan bahwa Wishah adalah jurnalis profesional yang sedang meliput kondisi kemanusiaan di Gaza.
Insiden ini terjadi meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berlaku sejak Oktober 2025.
Meski demikian, serangan sporadis masih kerap terjadi, menimbulkan korban sipil dan awak media.
Kondisi ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza yang masih dalam proses pemulihan pasca-konflik panjang.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang kebebasan pers di tengah konflik global.
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia kerap menyoroti isu Palestina, termasuk perlindungan terhadap jurnalis yang meliput fakta di lapangan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin