TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas meski baru saja menyepakati gencatan senjata sementara.
Juru bicara Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Washington melanggar tiga poin penting dalam proposal 10 poin Iran yang disebut Presiden Donald Trump sebagai “dasar yang workable” untuk negosiasi.
Ketiga pelanggaran yang diklaim Ghalibaf adalah: tidak adanya ceasefire di Lebanon, masuknya drone Israel ke wilayah udara Iran (termasuk di provinsi Fars selatan), serta penolakan Amerika Serikat terhadap hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.
Pernyataan ini disampaikan Ghalibaf melalui media sosial X pada Rabu (8 April 2026), hanya sehari setelah gencatan senjata dua minggu diumumkan.
Menurut Ghalibaf, pelanggaran-pelanggaran tersebut membuat gencatan senjata bilateral maupun negosiasi menjadi “tidak masuk akal” saat ini.
Ia menekankan bahwa proposal 10 poin Iran seharusnya menjadi kerangka utama pembicaraan damai.
Pihak Amerika Serikat langsung membantah tuduhan tersebut.
Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa ceasefire tidak pernah mencakup Lebanon, dan Iran mengalami “kesalahpahaman yang wajar”.
Vance menegaskan posisi tegas AS: Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium di wilayahnya.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menambahkan bahwa proposal 10 poin Iran yang beredar bukanlah versi yang disetujui Trump.
Ia menyebut draft tersebut telah dibuang dan kerangka Trump tetap melarang pengayaan uranium sepenuhnya.
Tuduhan ini muncul menjelang putaran pertama pembicaraan formal antara delegasi AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11 April 2026).
Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara pihak Iran dipimpin oleh Juru Bicara Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Baca Juga: Episode Serial Film Kartun SpongeBob yang Menuai Kritik, Hingga Dilarang Tayang!
Pakistan berperan sebagai mediator.
Gencatan senjata dua minggu ini merupakan jeda sementara setelah konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026.
Situasi ini sangat rapuh dan menjadi ujian awal bagi upaya diplomasi di tengah ketegangan regional yang melibatkan Israel dan kelompok-kelompok pro-Iran di Lebanon. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin