LEBANON – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak meski Amerika Serikat dan Iran baru saja mengumumkan gencatan senjata.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan lebih dari 100 serangan udara secara simultan ke target Hizbullah di Lebanon dalam waktu hanya 10 menit pada Rabu (8 April 2026).
Operasi yang diberi nama “Eternal Darkness” ini menyasar pusat komando, situs intelijen, dan infrastruktur militer Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, wilayah selatan Lebanon, serta Lembah Bekaa.
Otoritas kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 orang luka-luka.
Banyak serangan berdampak pada area pemukiman padat penduduk, memicu kepanikan warga yang berusaha mengungsi.
Rumah sakit di berbagai wilayah kewalahan dan sempat meminta donor darah darurat.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan.
Israel menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup Lebanon, sehingga operasi melawan Hizbullah tetap berlanjut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut serangan ini sebagai pukulan terberat bagi Hizbullah sejak operasi pager tahun lalu.
Hizbullah mengutuk serangan yang menyasar kawasan sipil dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya.
Sementara itu, Amnesty International mendesak perlindungan warga sipil di tengah meningkatnya korban jiwa.
Operasi ini menjadi hari paling mematikan dalam konflik Israel-Hizbullah sejak Maret 2026.
Konflik yang meluas di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, inflasi domestik, serta stabilitas ekonomi global yang berdampak pada sektor pariwisata. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin