TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Militer Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz hingga Washington mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pengumuman ini disampaikan Al Jazeera pada Sabtu (18/4/2026), hanya sehari setelah Iran sempat membuka selat tersebut pada 17 April menyusul gencatan senjata rapuh di Lebanon. Namun, karena AS di bawah Presiden Donald Trump mempertahankan blokadenya, Iran langsung mengembalikan kendali ketat atas jalur perairan strategis itu.
Menurut pernyataan militer Iran yang dikutip media pemerintah, transit melalui Selat Hormuz telah "kembali ke kondisi sebelumnya" dengan pengawasan militer ketat. Iran menegaskan bahwa kapal hanya boleh melintas dengan persetujuan mereka selama blokade AS berlanjut, yang disebut sebagai "pelanggaran" dan "pembajakan".
Selat Hormuz merupakan arteri utama perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global dan gas alam cair (LNG) melewati jalur sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini. Penutupan sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak, dan penutupan ulang ini dikhawatirkan akan memperburuk krisis energi internasional.
Baca Juga: Mengenal Konsep Y2K dan Perjalanannya dari Estetika Awal 2000-an hingga Tren Masa Kini
Penutupan ini terjadi di tengah perang yang meletus sejak akhir Februari 2026 antara AS-Israel melawan Iran. AS menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran untuk menekan Teheran agar mencapai kesepakatan, termasuk isu program nuklir. Trump sempat menyambut baik pembukaan selat pada Jumat lalu, tapi menegaskan blokade tetap berlaku hingga "transaksi" dengan Iran selesai 100 persen.
Sementara itu, Iran menganggap blokade AS sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pembukaan singkat selat pada 17 April sempat membuat harga minyak anjlok lebih dari 10 persen, tapi kini risiko gangguan pasokan kembali muncul.
Penutupan Selat Hormuz berpotensi menyebabkan:
Lonjakan harga minyak mentah dunia yang bisa melebihi level sebelumnya.
Gangguan pasokan energi ke Eropa, Asia, dan negara-negara Teluk.
Kenaikan harga BBM dan inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia sebagai importir minyak.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak global dapat berdampak pada subsidi BBM, inflasi, dan daya beli masyarakat. Pelaku bisnis dan pemerintah diharapkan memantau perkembangan ini secara ketat.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pemerintah AS atau Trump terhadap pengumuman terbaru Iran. Situasi di lapangan masih sangat dinamis dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin