Radar Malioboro — Dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga Rabu (22/4/2026) masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum mendapatkan izin melintas Selat Hormuz yang diblokade Iran.
Kedua kapal tersebut membawa total sekitar 2 juta barel minyak mentah (crude oil) yang sedianya digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional Indonesia.
Kondisi ini diungkap langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/4/2026). Meski situasi diplomasi disebut masih alot, Sugiono meminta masyarakat tidak panik karena pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia, ditutup oleh Iran menyusul konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel yang memuncak pada 28 Februari 2026. Iran memberlakukan pembatasan ketat terhadap kapal-kapal yang melintas, hanya mengizinkan negara-negara yang dianggap bersahabat. Malaysia dan Thailand sudah berhasil mengeluarkan kapal mereka, sementara Indonesia masih dalam proses negosiasi.
Berdasarkan data pelacakan Marine Traffic per 21 April 2026, Pertamina Pride, kapal tanker berukuran sangat besar (VLCC) sepanjang 330 meter, terpantau berlabuh di perairan Uni Emirat Arab (UEA) setelah sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Ras Tanura, Arab Saudi pada 14 Maret lalu. Status tujuan kapal kini berubah menjadi "for orders" (menunggu instruksi lanjutan), menggantikan rute awal menuju Kilang Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah.
Sementara itu, Gamsunoro yang berangkat dari Pelabuhan Khur Al Zubair, Irak, juga berstatus berlabuh di lepas pantai Dubai sejak 9 April 2026 setelah gagal menembus Selat Hormuz. Pelaksana Tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa kedua kapal masih dalam pengawasan penuh perusahaan.
Data Dua Kapal Pertamina yang Tertahan
Nama Kapal 1: VLCC Pertamina Pride; Bendera: Singapura; Muatan: Minyak mentah light crude oil untuk kebutuhan energi nasional RI; Posisi terkini: Berlabuh di perairan UEA (Teluk Persia)
Nama Kapal 2: Gamsunoro; Bendera: Panama; Muatan: Kargo milik konsumen pihak ketiga (non-Pertamina); Posisi terkini: Berlabuh di Dubai Anchorage; Total muatan: ± 2 juta barel minyak mentah
Tertahan sejak: Akhir Februari 2026
Sugiono mengakui proses negosiasi untuk mendapatkan izin melintas Selat Hormuz tidaklah mudah. Kompleksitas situasi internal di Iran turut mempersulit upaya diplomasi yang dilakukan Kedutaan Besar RI di Teheran bersama tim dari Pertamina.
"Permasalahannya menjadi semakin kompleks dengan situasi internal yang terjadi di Iran sendiri. Kami dari Kemlu dan Dubes terkait terus mengupayakan perizinan," ujar Menlu Sugiono, Konferensi Pers Kantor Staf Presiden, 22 April 2026.
Indonesia mengusulkan konsep "perdamaian logistik" sebagai kerangka negosiasi, dengan argumen bahwa Selat Hormuz tidak hanya dilalui kapal minyak, tetapi juga berbagai jenis kargo yang dibutuhkan banyak negara. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan kedua kapal dapat melanjutkan pelayaran.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Abdullah, menilai tertahannya Pertamina Pride dan Gamsunoro mengindikasikan adanya kebuntuan komunikasi antara Jakarta dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Beberapa negara Asia seperti China, India, Pakistan, dan Filipina disebut sudah mengantongi kesepakatan khusus dengan Teheran untuk melintas.
Di tengah kekhawatiran publik, pemerintah secara konsisten menegaskan bahwa ketahanan energi nasional tidak terganggu. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya menyatakan total muatan kedua kapal, sekitar 1,8 hingga 2 juta barel, hanya setara dengan kebutuhan energi nasional selama satu hingga dua hari, sementara cadangan nasional saat ini lebih dari 20 hari.
Sugiono menambahkan, pasokan minyak Indonesia tidak hanya bergantung dari jalur Selat Hormuz. Pertamina memiliki sumber-sumber pasokan alternatif dari berbagai negara dan jalur lain yang tidak terdampak blokade.
"Kalau misalnya disandingkan dengan kebutuhan energi kita, ini merupakan kebutuhan yang relatif kecil. Jangan nanti kuman di seberang lautan kelihatan tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan," ujar Menlu Sugiono, 22 April 2026.
Pemerintah juga memastikan tidak akan menaikkan harga BBM hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, APBN masih memiliki ruang fiskal yang memadai untuk menahan gejolak harga, meski harga minyak Brent di pasar global telah melonjak lebih dari 55 persen sejak konflik Iran berkecamuk.
Kronologi Singkat Krisis Selat Hormuz dan Kapal Pertamina
28 Februari 2026
Konflik bersenjata antara Iran dan AS-Israel memuncak. Iran menutup Selat Hormuz. Dari empat kapal Pertamina yang beroperasi di kawasan tersebut, hanya Paragon dan Rinjani yang berhasil melintas sebelum penutupan.
14 Maret 2026
Pertamina Pride berangkat dari Ras Tanura, Arab Saudi, menuju Kilang Cilacap, namun gagal menembus blokade.
9 April 2026
Gamsunoro merapat ke Pelabuhan Dubai setelah gagal melintas Selat Hormuz, berstatus berlabuh sambil menunggu instruksi.
Baca Juga: Adopsi Teknologi Agroforestri Jadi Strategi Jitu Dongkrak Nilai Ekonomi Lahan Kakao Petani
17–19 April 2026
Iran sempat membuka Selat Hormuz saat gencatan senjata berlaku. Lebih dari 20 kapal berhasil melintas. Namun Hormuz kembali ditutup pada 19 April, disertai insiden penembakan terhadap kapal yang mencoba melintas.
20 April 2026
Seorang pelaut Indonesia, Adrian Umar, viral setelah merekam video saat berpapasan dengan Gamsunoro di Selat Hormuz. Ia terkejut karena tidak satu pun kru kapal tersebut berasal dari Indonesia.
22 April 2026
Menlu Sugiono dalam konferensi pers di Jakarta memastikan stok BBM nasional aman dan negosiasi diplomatik terus berlanjut. Kementerian ESDM dan Pertamina membantah ada kapal LPG Pertamina yang sudah berhasil melintas.
Insiden lain yang menarik perhatian publik adalah temuan pelaut Indonesia bernama Adrian Umar yang viral di media sosial. Dalam video yang beredar, Adrian, yang merekam momen saat kapalnya berpapasan dengan Gamsunoro pada 18 April 2026, mencoba menghubungi kru kapal Pertamina tersebut. Namun ia terkejut mendapati tidak satu pun kru kapal berasal dari Indonesia, dengan awak kapal yang diduga seluruhnya berasal dari India.
Fakta ini memantik diskusi di kalangan publik tentang kebijakan penggunaan tenaga kerja asing di kapal-kapal BUMN Indonesia, di tengah situasi krisis yang justru membutuhkan solidaritas dan kepastian komunikasi dengan pihak otoritas setempat.
Pertamina International Shipping sendiri belum memberikan klarifikasi resmi mengenai komposisi kru kedua kapal yang masih tertahan tersebut. Sementara itu, pemantauan situasi di Selat Hormuz terus dilakukan, sambil menunggu perkembangan negosiasi diplomatik yang dinilai masih penuh ketidakpastian. (oOo)
Editor : Iwa Ikhwanudin